Jumat, 21 November 2014

ayat al quran dan hadis tentang makhluk/ penduduk langit

Misteri ANUNNAKI (ALIEN), di masa kehidupan RASULULLAH?

Rasulullah pernah mengisyaratkan, tentang keberadaan sesosok manusia “Penghuni Langit”, yang bernama Uways (Uwais) Al Qorni.
Rasulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qorni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau, memandang kepada Ali bin Abi Thalib r.a. danUmar bin Khattab r.a. lalu bersabda : “Suatu saat apabila kalian bertemu dengan dia mintalah do’a dan istighfarnya, karena dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi
Uwais adalah seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, dengan kulitnya kemerah-merahan. Pemuda dari Yaman ini tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan menderita lumpuh. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing.
Mayoritas Ulama berpendapat, istilah “Penghuni Langit” yang disandang oleh Uwais, dikarenakan baktinya yang sangat luar biasa kepada ibunya.
Misteri Uwais, manusia langit dari Yaman
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah dan akhirnya bertemu dengan Umar ra dan Ali bin abi Thalib. Saat itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya.
Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah meninggal dunia. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang tak dikenal yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya.
Demikian pula ketika masyarakat pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Dan Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika itu aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya. Lalu aku bermaksud kembali ke tempat penguburannya untuk memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat lagi adanya bekas kuburannya”.  (Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang dalam satu pasukan, bersama Uwais al-Qorni di masa pemerintahan Umar Ibnu Khattab r.a.).
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.

Manusia “Penghuni Langit” = Alien dari Planet Nibiru ?
Entah kebetulan atau tidak, ciri-ciri fisik Uways sangat mirip dengan ras Kaukasia, yang oleh beberapa kalangan dikatakan mewarisi ciri fisik bangsa Anunnaki, Alien dari Planet Nibiru.
Menurut kalangan UFOLOGI, Anunnaki terdiri dari tiga ras alien, yaituSaurian atau Reptoid (bangsa Reptil bertubuh manusia raksasa),Agharian atau Nordic (bangsa yang mirip dengan manusia Kaukasian), danZeta (jenis alien Grey) yang tinggal di wilayah bintang Zeta Reticula.
Meskipun Islam, tidak menolak kemungkinan adanya makhluk lain, di luar bumi. Namun tidak serta merta kita menyatakan, Uways sesungguhnya Alien, yang nyasar di bumi ini.
Benarkah Planet Nibiru, yang dihuni bangsa Anunnaki itu ada? Atau hanyacerita dongeng dari Bangsa Sumeria? Jika Uways adalah Alien, bagaimana ia bisa sampai ke Yaman? Apakah ia datang melalui pintu Wormhole? (Kunjungi :Identifikasi Fenomena Wormhole, menurut Al Qur’an?).
Ke-shahihan kisah Uways Al Qorni, juga harus diteliti lagi. Hal tersebut, dalam upaya untuk menghindari cerita-cerita dongeng bangsa Sumeria kuno, masuk ke dalam khasanah keilmuan umat muslim.
Andaikan semua kisah tentang Uways adalah sebuah fakta, penjelasan yang paling logis saat ini adalah, Uways Al Qorni adalah seorang keturunan bangsa Kaukasia, yang tinggal dinegeri Yaman. Baktinya terhadap Sang Bunda, telah memberi kemuliaan kepada dirinya, digelari “Penghuni Langit” oleh Rasulullah.
WaLlahu a’lamu bishshawab

ALIEN, Semesta Alam dan Ayat-Ayat Al Qur’an ?

Data sementara mengenai luasnya alam semesta, adalah sebagai berikut :
BUMI merupakan planet ke-3 dari susunan planet yang mengelilingi BINTANG yang bernama MATAHARI
Matahari adalah 1 dari sekitar 200 milyar bintang yang bergerak berputar bersama mengelilingi inti galaksi Milkyway/ Bima sakti. Jumlah galaksi-besar (large galaxi) ada 350 Milyar, dan galaksi kecil (dwarf galaxies) ada 7 trilliun buah
Galaksi Bimasakti bagian dari kumpulan galaksi lain membentuk gugusan galaksi, diprediksi ada 25 Milyar gugusan
Gugusan galaksi berkumpul membentuk super cluster, diprediksi ada 10 Juta super cluster
Bintang-bintang (serupa matahari, yang memiliki sumber cahaya sendiri, dengan ukuran yang lebih besar atau lebih kecil dari matahari ), diprediksi sekitar 30 milyar trilliun (3×10²²) buah.
Keluasan alam semesta diprediksi berdiameter 14.5 Milyar tahun cahaya, dimana 1 tahun cahaya (ly : light year) = 9.46 x 10^12 km (sedikit di bawah 10 trilyun kilometer).
Adakah makhluk diluar sana?
Syaikh Muhammad al-Ghazali di dalam bukunya, berpendapat bahwa bumi yang kita diami ini tidaklah lebih dari sebutir debu di alam semesta yang amat besar.
Alam ini bagi al-Ghazali sudah penuh sesak dengan makhluk hidup yang diciptakan oleh Allahyang merujuk pada wujud-Nya dan bersaksi tentang kebesaran-Nya.
Kitab suci al-Qur’an memang tidak bercerita secara jelas (didalam ayat-ayat Muhkamatnya) kepada kita, mengenai keberadaan makhluk hidup diluar manusia, berikut planet dimana mereka tinggal.
Tetapi hal ini tidak berarti bahwa secara simbolik (melalui ayat-ayat Mutasyabihatnyaal-Qur’an juga menolak keabsahan teori-teori keberadaan mereka (penghuni langit), sebab sebaliknya justru al-Qur’an menggambarkan kekuasaanNYA di semua alam semesta yang melingkupi seluruh makhluk hidup yang ada dan tersebar disemua penjuru galaksi.
Dan diantara ayat-ayat-Nya adalah menciptakan langit dan bumi ; dan Dabbah yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.  (QS. Asy-Syura (42) ayat 29).
Dan Allah telah menciptakan Dabbah dari almaa’; diantara mereka ada yang berjalan diatas perutnya dan ada juga yang berjalan dengan dua kaki dan sebagiannya lagi berjalan atas empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki, karena sesungguhnya Allah berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.. (QS. An-Nur (24) ayat 45)
Melalui surah asy-syura ayat 29 diatas kita memperoleh gambaran dari al-Qur’an bahwa Allah telah menyebarkan dabbah disemua langit dan bumi yang telah diciptakan-Nya.
Pengertian dari istilah Dabbah ini sendiri bisa kita lihat pada surah an-Nur (24) ayat 45, yaitu makhluk hidup yang memiliki cara berjalan berbeda-beda, ada yang merayap seperti hewan melata ada yang berjalan dengan dua kaki sebagaimana halnya dengan manusia, dan ada pula yang berjalan dengan empat kaki seperti kuda, anjing, kucing dan seterusnya.
Sehingga merujuk istilah Dabbah yang ada dilangit dengan makhluk berjenis Jin atau Malaikatsaja, serta mengabaikan kemungkinan adanya makhluk jenis lain berarti bertentangan dengan maksud Kitab Suci itu sendiri.
….
Keberadaan planet-planet yang berfungsi sebagai tempat hidup dan berkehidupan makhluk berjiwa seperti bumi misalnya secara eksplisit bisa juga kita peroleh didalam ayat al-Qur’an :
Allah menciptakan tujuh langit dan seperti itu juga bumi; berlaku hukum-hukum Allah didalamnya, agar kamu ketahui bahwa Allah sangat berkuasa terhadap segala sesuatu; dan Allah sungguh meliputi segalanya dengan pengetahuan-Nya. (QS. Ath-Thalaq (65) ayat 12)
Jika kata langit dan bumi disebut dengan bilangan tujuh yang berarti banyak (lebih dari satu), maka tentu yang dimaksud dalam ayat ini adalah kemajemukan gugusan galaksi yang terdiri dari jutaan bintang dan planet-planet yang ada sebagaimana yang kita ketahui dari ilmu astronomi modern. Oleh karenanya secara tidak langsung al-Qur’an menyatakan kepada kita bahwa Bumi yang kita diami ini bukanlah satu-satunya bumi yang ada di jagad raya.
Apa yang ada dilangit dan dibumi memerlukan Dia, setiap waktu Dia dalam kesibukan. (QS. Ar-Rahman (55) ayat 29)
Cerdas dan berakalkah makhluk luar angkasa (Alien) itu ?
Pertanyaan ini spekulasi, karena kita tidak atau belum pernah bertemu dengan satupun mahluk berakal angkasa luar. Jadi, karena tidak pernah bertemu, maka kemungkinan jawabannya bisa tidak bisa ada.
Lalu bagaimana peran manusia di alam semesta ini?. Apakah Al Qur’an menjelaskan atau setidaknya menerangkan keberadaan mahluk berakal, selain yang ada di bumi yang kita tinggali ini?.
Berdasarkan Teori Kemungkinan. Ada sejumlah bintang yang sangat-sangat banyak di luar galaksi kita. Yang bisa dideteksi saja mencapai 30 milyar trilliun (3×10²²). Jadi, kemungkinan 0,000.000.01% (sepermilyar persen) saja asumsi ini dibangun, masih akan ditemukan sekian-sekian kemungkinan adanya mahluk berakal selain kita. (Statistik cenderung akan mengatakan kemungkinan itu ada. Jadi, bisa diambil kesimpulan kemungkinan itu ada.)
 Alam ini begitu luasnya, sangat jauh lebih luas dari perkiraan-perkiraan manusia.
Awalnya manusia berpikir bahwa, bumi itu datar. Peradaban berkembang, manusia menduga bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Kemudian, kini manusia paham bahwa manusia tinggal di bumi yang ada di satu galaksi saja di antara jutaan galaksi di alam semesta.
Kemudian manusia mengerti bahwa kita ternyata tinggal hanya di salah satu sisi galaksi di tepi alam semesta yang terus meluas dengan kecepatan tinggi di mana jarak satu titik dengan titik galaksi lainnya saling menjauh seperti titik-titik permukaan balon yang ditiup mengembang.
Kalaupun ada mahluk berakal di tempat lain di sisi alam semesta lainnya, jaraknya semakin jauh. Untuk bisa menembusnya, diperlukan pengetahuan dan teknologi yang harus sangat maju.
Ilmuwan berpikir bahwa ada cara untuk menembusnya, baik melalui stargate, teleportasi, lubang cacing (worm hole), dan lain sebagainya. Paling tidak film-film fiksi sains memvisualisasikan kemungkinan ini.
Kecerdasan Makhluk di luar bumi
Setidaknya ada 2 pandangan :
(Pandangan I) 
Fahmi Basya (Dosen UIN Jakarta) yang terkenal dengan pelatihan spiritual dan matematika Al Qur’annya menjelaskan (dan tampaknya beliau percaya) bahwa mahluk di luar bumi itu ada. Soal cerdas atau tidak, tampaknya beliau percaya juga, bahwa mahluk luar bumi itu memiliki kecerdasan. Ayat yang mendukungnya adalah QS. At Thaalaq (65) ayat 12, yang berbunyi :
* Allah Yang menciptakan tujuh langit dan sebagian bumi seperti mereka, Dia turunkan perintah antara keduanya, agar kamu ketahui bahwa Allah atas tiap sesuatu Berkuasa, dan sesungguhnya Allah sungguh meliputi karakter tiap sesuatu dengan Ilmu (Versi Fahmi Basya)
* Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (Versi Depag)
* Allah is He Who created seven heavens, and of the earth the like of them; the decree continues to descend among them, that you may know that Allah has power over all things and that Allah indeed encompasses all things in (His) knowledge. (http://etext.virginia.edu/)
* GOD created seven universes and the same number of earths. The commands flow among them. This is to let you know that GOD is Omnipotent, and that GOD is fully aware of all things. (http://www.submission.org/suras/sura65.html)
(Pandangan II)
Sebaliknya yang meyakini makhluk itu ada tetapi tidak berakal atau lebih rendah tingkatan dari manusia adalah berdasarkan ayat berikut:
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, sebagai rahmat dari padaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS. Al Jaatsiyah (45) ayat 13)
Dengan ayat ini cukup jelas bahwa manusia adalah makhluk yang berkuasa atas segala sesuatu di langit dan di bumi secara merata. Ini dapat diartikan bahwa, kita adalah satu-satunya makhluk yang berakal di bumi maupun di langit.
WaLlahu a’lamu bishshawab
http://kanzunqalam.com/2012/02/13/alien-semesta-alam-dan-ayat-ayat-al-quran/
Beberapa dalil tentang keberadaan Para Penghuni Langit
Hadis (1) : Penghuni Langit dibedakan dengan Malaikat
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya, serta para penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang ada di dalam lubangnya dan juga ikan, akan mendo’akan orang yang mengajarkan kebaikan kepada ummat manusia”.
(At-Tirmidzi, Kitab “al-’Ilm”, Bab “Maa Jaa-a fii Fadhlil Fiqhi ‘alal ‘Ibaadah” (V/50, no. 2685). Dishahihkan oleh al-Albani dalam kitab Shahiih Sunanut Tirmidzi (II/343). Lihat pula kitab Misykaatul Mashaahiih dengan tahqiq al-Albani (I/74, no. 213).
Note : Pada Hadis di atas, Rasulullah membedakan antara Malaikat dengan Penghuni Langit.
Hadis (2) : Berita tentang Ya’juj dan Ma’juj
“Kemudian mereka berjalan dan berakhir di gunung Khumar, yaitu salah satu gunung di Baitul Maqdis. Kemudian mereka berkata: “kita telah membantai penduduk bumi, mari kita membantai penduduk langit.” Maka mereka melemparkan panah-panah dan tombak-tombak mereka ke langit. Maka ALLAAH SWT kembalikan panah dan tombak-tombak mereka dalam keadaan berlumuran darah.” (HR. Muslim dalam kitab Al-Fitan wa Asyrathus Sa’ah)
Note : Penduduk Langit pada Hadis di atas tentu bukan Malaikat, karena Malaikat makhluk gaib, bagaimana mereka bisa berlumuran darah?
Hadis (3) : Pendapat Ibnu Abbas r.a.
Abu Dhahi meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas ra membaca ayat, “Allah yg menciptakan tujuh langit dan dari bumi juga serupa,” lalu berkata, “ada tujuh bumi dan di setiap bumi terdapat nabi-nabi seperti nabi-nabi kalian. Ada Adam seperti nabi Adam, ada Nuh seperti nabi Nuh, ada Ibrahim seperti nabi Ibrahim, dan ada Isa seperti nabi Isa.”
Note : Imam Suyuthi ketika ditanya tentang hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Abi adh Dhuha dari Ibnu Abbas tentang,”Di setiap bumi terdapat Adam seperti Adam kalian, Nuh seperti Nuh kalian, Ibrahim seperti Ibrahim kalian, Isa seperti Isa kalian dan seorang Nabi seperti Nabi kalian.” Maka beliau (Suyuthi) menjawab bahwa hadits itu diriwayatkan oleh Hakim didalam “al Mustadrak” dan dia (Hakim) mengatakan bahwa hadits itu memiliki sanad yang Shahih…
 http://kanzunqalam.com/2012/02/13/alien-semesta-alam-dan-ayat-ayat-al-quran/



Kamis, 20 November 2014

Bukti-bukti Masuknya Islam di Indonesia

Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
  1. Seminar masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
  2. Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.
  3. Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606-699 M.
  4. Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672 M.
  5. Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysiamengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk ke Malaya.
  6. Prof. S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnay berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.
  7. W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Aarb muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).
  8. T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).
SUMBER:http://sejarawan.wordpress.com/2008/01/21/proses-masuknya-islam-di-indonesia-nusantara/ 
Ada juga yang berpendapat pengaruh Islam mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Pendapat ini berdasarkan bukti-bukti sebagai berikut:
  1. Batu nisan Sultan Malik al Saleh berangka tahun 1297 Masehi. Sultan Malik al Saleh adalah raja Samudra Pasai pertama yang masuk Islam. Kerajaan ini adalah kerjaan Islam pertama di Indonesia.
  2. Catatan perjalanan Marco Polo yang pernah singgah di Kerajaan Perlak (1292). Dalam catatannya menceritakan penduduk kota Perlak telah menganut Islam, sedangkan di luar kota belum, melainkan masih animisme dan dinamisme.
  3. Catatan Ibnu Battuta (12345 - 1346) yang menytakan bahwa Samudra Pasai menganut paham Syafi'i. Hal ini membuktikan bahwa Islam sudah berkembang di kerajaan tersebut.
  4. Catatan Ma-Huan musafir Cina ini memberitakan pada awal abad ke-15 Masehi sebagian besar masyarakat di pantai utara Jawa Timur telah memeluk agama Islam.
  5. Suma Oriental dari Tome Pires musafir Portugis memberitakn tentang penyebaran Islam antara tahun 1512 sampai tahun 1515 Masehi, yang meliputi Sumatera, Kalimantan, Jawa hingga kepulauan Maluku.
SUMBER:http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2013/02/proses-masuknya-islam-ke-indonesia.html
 

Kisah di Balik Makam Ki Agung Makukuhan Kedu, Temanggung


Gedung tempat terdapatnya makam Ki Ageng Makukuhan Kedu. (photo : Syaifud Adidharta)
Gedung tempat terdapatnya makam Ki Ageng Makukuhan Kedu. (photo : Syaifud Adidharta)

Disalah satu tempat di Kabupaten Temanggung terdapat sebuah tempat yang sering kali menjadi tempat wisata relegi oleh banyak masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa yang tedapat di Indonesia.
Tempat itu berada tepatnya di Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Temanggung. Sebut saja salah satunya adalah kawasan pemakaman yang dianggap keramat dan bisa membawa keberkahan menurut sebagian masyarakat yang berjiarah.
Kawasan itu adalah area pemakaman Ki Ageng Makukuhan. Di tempat inilah ada salah satu makam yang banyak dikunjungi masyarakat untuk berjiarah dan mengirim doa, selain itu terkadang tidak sedikit pula penjiarah memintah keberkahan di makam keramat tersebut. Lalu siapakan Ki Ageng Makukuhan tersebut?. Dan mengapa menjadi legenda serta menjadikan sebuah nama yang begitu di agungkan banyak masyarakat Temanggung pada khususnya, Ki Ageng Makukuhan?.
Alkisahnya sebagai berikut, istilah Wali dalam masyarakat Jawa merupakan sebuah nama yang sangat terkenal dan mempunyai arti khusus, yakni digunakan untuk menyebut nama nama tokoh yang dipandang sebagai awal mula penyiar agama Islam di Tanah Jawa. Mengenai asal-usul para Wali tersebut sampai sekarang masih belum terdapat keseragaman pendapat. Namun, dapat ditarik kesimpulan bahwa para Wali yang ada di negara kita mempunyai darah campuran dari bangsa Arab, Cina, dan Jawa.
Akan tetapi ketidakjelasan asal-usul para Wali nampak pada Ki Ageng Makukuhan yang disebut juga dengan nama Syeikh Maulana Taqwim, Jaka Teguh dan Maha Punggung. Di samping itu, ia juga dinamakan Sunan Kedu karena telah menyebarkan agama Islam di daerah Kedu yang sekarang bertempat di Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.
Sementara itu Ki Ageng Makukuhan adalah seorang wali yang ikut tergabung dalam anggota Dewan Santri konon dari generasi penerus Walisanga. Ia adalah seorang wali yang hidup sejaman dengan Walisanga yang memegang peranan penting dalam menyebarkan agama Islam di Daerah Kedu (Temanggung).
Pintu gerbang utama memasuki kawasan pemakaman Ki Ageng Makukuhan Kedu. (photo : Saifud Adidharta)
Pintu gerbang utama memasuki kawasan pemakaman Ki Ageng Makukuhan Kedu. (photo : Saifud Adidharta)
Salah satu bukti ia pernah berguru kepada Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Ia telah merubah masyarakat Kedu yang semula masih menganut kepercayaan  hingga menjadi masyarakat yang beragama Islam. Berkat Ki Ageng Makukuhan seluruh masyarakat Temanggung dan sekitarnya sekarang menjadi makmur khususnya dalam bidang pertanian.
Alkisah berawal dari  masa berdirinya Kerajaan Demak. Ada seorang pemuda ber-etnis Tionghoa, yang sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Glagahwangi pimpinan Sunan Kudus. Nama pemuda tersebut MA KUW KWAN, namun oleh Sunan Kudus, dia diberi nama baru yakni Syarif Hidayat. Meski demikian, Sunan Kudus masih sering memanggil dengan nama aslinya, karena dia memang merupakan salah satu santri kesayangan Sunan Kudus.
Karena selain memang mereka berasal dari etnis yang sama, Ma Kuw Kwan merupakan salah satu dari sembilan santri Sunan Kudus yang paling tinggi ilmunya. Dalam perjalanan hidupnya, Ma Kuw Kwan juga pernah menimba ilmu dari Sunan Kalijaga.
Disaat Ma Kuw Kwan harus melarikan diri dari Prajurit Kerajaan Capiturang pimpinan Gagaklodra yang hendak membunuhnya. Untuk menghilangkan jejak, saat itu Ma kuw Kwan menggunakan nama samaran Jaka Teguh. Selain mendapat tambahan ilmu agama, Ma Kuw Kwan juga diajari cara bercocok tanam oleh Sunan Kalijaga, juga beberapa ilmu kanuragan, termasuk ilmu untuk terbang.
Selain itu Sunan Kalijaga sengaja mengajarkan cara bercocok tanam, agar Ma Kuw Kwan menyebarkan agama Islam melalui media pertanian. Sedangkan ilmu kanuragan, memang diperlukan untuk menjaga diri selama melakukan perjalanan. Setelah dirasa cukup ilmu yang diberikan, Sunan Kalijaga menugaskan Ma Kuw Kwan untuk menyebarkan agama di daerah Kedu, hingga akhirnya Ma Kuw Kwan bermukim di Desa Pendang. Disini Ma Kuw Kwan mulai aktif menyebarkan agama Islam.
Ma Kuw Kwan menjalankan penyebaran agama Islam dirinya selalu menyesuaikan segala petunjuk Sunan Kalijaga, Ma Kuw Kwan lebih banyak mengajarkan cara bercocok tanam yang baik. Sedangkan dalam mengajarkan agama Islam, dia lebih banyak memberikan contoh. Misalnya, saat tiba waktu dhuhur di sawah, Ma Kuw Kwan tak segan-segan untuk meminta air wudhu dari warga dan sengaja melaksanakan sholat di tempat terbuka.
Dan saat ada orang yang penasaran dan bertanya tentang yang dilakukannya. Ma Kuw Kwan menjelaskan bahwa yang dilakukannya adalah berdoa, memohon berkah dari Tuhan yang Maha Kuasa agar diberikan hasil panen yang melimpah. Warga memang tak langsung mengikutinya, tetapi saat hasil panen Ma Kuw Kwan benar-benar melimpah, tak sedikit warga yang minta diajari sholat dan memeluk agama Islam. Dengan cara yang santun dan membawa manfaat langsung seperti tersebut diatas, banyak warga yang bersimpati dan mengikuti ajaran Ma Kuw Kwan.
Sehingga dalam waktu singkat dia mendapatkan banyak pengikut, nama Ma Kuw Kwan makin disegani sebagai pemimpin agama yang juga mengajarkan pertanian. Oleh para pengikutnya, dia mendapat julukan Ki Ageng Kedu, atau juga sering disebut dengan nama aslinya, Ki Ageng Ma Kuw Kwan, namun lebih mudah dengan menyebut KI AGENG MAKUKUHAN.
Dan akhirnya nama harum Ki Ageng Makukuhan akhirnya terdengar oleh telinga Sunan Kudus. Mengetahui tanah di Kedu sangat subur, Sunan Kudus mengutus salah satu santrinya yang bernama Bramanti untuk mengirimkan bibit padi jenis Rajalele dan Cempa, serta bibit tanaman tembakau.
Bukti pemerintah Kabupaten Temanggun mengakui adanya situs makam sejarah Ki Ageng Makukuhan dengan adanya prasasti di pemerintah daerah Temanggung. (photo : Syaifud Adidharta)
Bukti pemerintah Kabupaten Temanggun mengakui adanya situs makam sejarah Ki Ageng Makukuhan dengan adanya prasasti di pemerintah daerah Temanggung. (photo : Syaifud Adidharta)
Akan tetapi  setelah sampai di Kedu dan menyerahkan bibit tanaman yang diberikan Sunan Kudus, Bramanti tak mau pulang ke Pondok Pesantren Glagahwangi, tetapi memilih mengabdi pada Ki Ageng Makukuhan. Setelah beberapa waktu, Ki Ageng Makukuhan mempercayakan Bramanti untuk menggarap tanah di Desa Balongan atau Mbalong, serta menyebarkan agama disana.
Bramanti menyebarkan agama Islam di daerah Parakan. Seperti halnya Ki Ageng Makukuhan, Bramanti dengan cepat mendapatkan banyak pengikut hingga oleh para pengikutnya Bramanti diberi gelar Ki Ageng Parak. Seiring berjalannya waktu, lahan pertanian Ki Ageng Makukuhan makin luas. Padi jenis Rajalele dan Cempa yang ditanamnya telah banyak digemari oleh warga masyarakat karena selain pulen, rasanya juga enak.
Sedangkan tembakau digunakan untuk menyelingi tanaman padi saat musim kemarau. Pada saat Ki Ageng Makukuhan sedang menanam tembakau, sekali lagi datang utusan Sunan Kudus yang menyampaikan pesan agar Ki Ageng Makukuhan datang menghadap Sunan Kudus, untuk melaporkan perkembangan penyebaran agama di Kedu, serta hasil panen dari bibit yang diberikannya. Namun karena bibit tembakau yang belum ditanam masih cukup banyak, dan khawatir akan layu jika ditinggalkan dalam waktu yang lama, maka Ki Ageng Makukuhan terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaannya, baru kemudian memenuhi undangan Sunan Kudus. Karena merasa telah terlambat, Ki Ageng Makukuhan tidak menempuh jalan darat, melainkan terbang menggunakan ilmu yang diajarkan Sunan Kalijaga.
Sesampai di Pondok Pesantren Glagahwangi, Ki Ageng Makukuhan tak langsung turun, melainkan terbang mengelilingi masjid untuk mencari tempat pendaratan yang aman. Namun aksinya keburu dilihat oleh Sunan Kudus. Mengira Ki Ageng Makukuhan sedang pamer ilmu, Sunan Kudus menyuruh salah satu santrinya untuk melemparkan nyiru/tampah yang berada didekatnya. Namun bukannya menghindar, Ki Ageng Makukuhan justru menaiki nyiru tersebut untuk terbang.
Marahlah Sunan Kudus melihat kelakuan muridnya itu. Beliau mengambil kerikil dan dilemparkan kearah Ki Ageng Makukuhan hingga jatuh. Ki Ageng Makukuhan merasa malu dan memohon maaf pada Sunan Kudus, sembari menjelaskan duduk persoalannya. Untunglah, Sunan Kudus memaklumi dan memaafkannya. Malamnya, setelah Ki Ageng Makukuhan melaporkan perkembangan penyebaran agama yang dilakukannya, beliau juga sempat menjelaskan bahwa bibit padi yang diberikan oleh Sunan Kudus telah menjadi tanaman yang sangat diminati para petani. Namun tembakau yang beliau tanam di daerah Kedu, kurang menghasilkan rasa yang mantab sehingga harga jualnyapun kurang bagus.
Ki Ageng Makukuhan meminta petunjuk Sunan Kudus untuk masalah ini. Sunan Kudus membantu Ki Ageng Makukuhan mencarikan lokasi yang baik untuk bercocok tanam tembakau. Beliau mengambil sebuah RIGEN, yaitu anyaman bambu yang tidak terlalu rapat, berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran.
Kemudian Rigen tersebut dilamparkan oleh Sunan Kudus ke arah Kedu dengan ilmu panuragannya, lalu menjelaskan bahwa lokasi sekitar jatuhnya Rigen tersebut merupakan tempat yang sangat baik untuk menanam tembakau. Sunan Kudus juga menjelaskan, jika setelah tembakau ditanam, malam harinya dari tanah tersebut seperti memancarkan sinar, maka hasil panen dari sawah yang memancarkan sinar ini akan memiliki kualitas yang sangat istimewa. Belakangan, Rigen digunakan oleh masyarakat untuk menjemur tembakau yang sudah di rajang tipis-tipis. Dan warga menyebut sawah yang memancarkan sinar sebagai Ndaru Rigen.
Karena mereka beranggapan bahwa tanah mendapatkan berkah dari rigen yang dilemparkan Sunan Kudus. Setelah kembali ke Kedu, Ki Ageng Makukuhan mencari lokasi jatuhnya rigen yang dilemparkan Sunan Kudus. Ternyata, rigen tersebut jatuh di lereng Gunung Sumbing. Saking tingginya ilmu kesaktian Sunan Kudus, tanah tempat jatuhnya rigen yang dilemparkannya sampai melesak ke dalam bahasa. Jawa adalah LEGOK, kini makin banyak warga yang bermukim di lokasi tersebut dan telah menjadi sebuah kampung yang diberi nama LEGOKSARI.
Sekarang Legoksari masuk kedalam wilayah desa Lamuk Kecamatan Tlogomulya Temanggung. Di sinilah Ki Ageng Makukuhan pertama kali membuka lahan pertanian tembakau di Lereng Gunung Sumbing - Sindoro. Saat pertama kali akan memulai/wiwit penanaman tembakau, Ki Ageng Makukuhan mengajak warga sekitar untuk bersama-sama berkumpul di sawah, karena hendak diajari cara bercocok tanam tembakau, maklumlah, warga memang belum mengenal tanaman ini sebelumnya.
Ki Ageng Makukuhan sebelum mengajarkan cara bercocok tanam, terlebih dahulu Ki Ageng Makukuhan mengajak warga untuk mengadakan selamatan, yaitu berdoa bersama memohon berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, agar tembakau yang mereka tanam bisa memberikan hasil panen yang memuaskan. Acara dilanjutkan dengan makan bersama sambil menikmati jajanan pasar, buah-buahan dan kopi kental, minuman kegemaran Ki Ageng Makukuhan.
Hal ini sengaja dilakukan sekaligus untuk menyebarkan agama Islam, tujuan utama Ki Ageng Makukuhan. Sampai kini, warga masih selalu melakukan acara WIWIT, selain untuk melestarikan apa yang telah dicontohkan oleh Ki Ageng Makukuhan, juga untuk mengharapkah berkah dari Tuhan. Sekarang, pada acara tersebut warga masyarakat membuat TUMPENG ROBYONG. Yaitu tumpeng dari beras hitam yang dibentuk kerucut menyerupai Gunung, dilengkapi lauk pauk yang lengkap, yaitu ingkung ayam utuh, pepes teri teri, telur dadar dan lauk pauk lain seperti tempe tahu goreng, serta jajanan pasar dan buah-buahan, tentu tak ketinggalan kopi kental tanpa gula, yang kesemuanya itu merupakan menu kegemaran Ki Ageng Makukuhan.
Warga masyarakat akan tumpek blek disawah, tak peduli lelaki perumpuan, tua ataupun muda, semua melakukan acara memulai musim tembakau, warga menyebutnya Among Tebal, selain untuk mengharap berkah tentu juga untuk kerukunan antar warga. Saat tembakau telah dipanen dan dirajang, disinilah letak perbedaan tembakau dari sawah yang mendapat ndaru rigen dan dari lokasi yang lain. Tembakau dari tanah biasa jika dirajang akan jatuh dan menyebar/ambyar, sedangkan tembakau yang berasal dari sawah yang mendapat ndaru rigen, setelah dirajang justru menggumpal atau nyrintil, maka warga menamakan tembakau jenis ini sebagai Tembakau Srintil.
Dan kononnya, tembakau Srintil ini memiliki kualitas dan rasa yang sangat istimewa bagi para penikmatnya. Tak heran, harganyapun juga istimewa, bisa ratusan kali lebih mahal dari harga tembakau biasa. Namun sayangnya, ndaru rigen tidak selalu terjadi pada setiap musim dan di semua lokasi. Sehingga tak setiap tahun warga bisa menikmati hasil melimpah dari tembakau srintil. Tapi bukan tidak mungkin, justru itulah alasan warga tetap melestarikan tradisi acara wiwit, dengan harapan sawahnya bisa mendapatkan ndaru rigen dan menghasilkan tembakau srintil.
Akan tetapi biar bagaimanapun Tuhan selalu memiliki cara-Nya sendiri, agar kita selalu mengingatnya, yang jelas Tuhan menetapkan segala sesuatu kepada kita, sesungguhnya Dia telah melibatkan kita dalam sebuah rencana-Nya. Sekarang tinggal kita yang harus melibatkan Tuhan dalam setiap rencana kita, agar hasil dari rencana kita tersebut bisa mendapatkan berkah dari Tuhan dan sesuai dengan apa yang kita harapkan.
SUMBER:http://unik.kompasiana.com/2014/03/11/kisah-di-balik-makam-ki-agung-makukuhan-kedu-temanggung-637715.html