Selasa, 26 Mei 2015

Rihlah Asy Syita'i wa Ash Shaif (رحلة الشتاء الى الصيف)

kisah perjalanan  musim dingin ke musim panas

Kisah Al-Quran: Mengenal Lebih Dalam Kaum Quraisy


Kaum Quraisy
Kaum Quraisy di samping 
KAUM Quraisy merupakan salah satu kaum di tanah Arab yang mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT. Dalam kitab suci Al-Quran, nama mereka diabadikan dalam satu surah yang mengambil judul nama kaum itu, yaitu Surah Quraisy pada juz Amma (juz ke-30).
Nama Quraisy hanya sekali dikutip ya hanya pada surat ke-106 ini saja: “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasan mereka bepergian pada musim dingin  dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik Rumah ini (Kakbah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan laar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” – QS Quraisy (106): 1-4.
Bangsa (sya’b) Arab pada waktu itu terdiri dari qabilah Adnan dan Qahtan. Qabilah Qahtan (keturunan Ya’rab bin Qahtan) terutama berdiam di Yaman, Hadhramaut, dan bagian Arab Selatan lainnya. Mereka dianggap berdarah Arab murni. Suku Aus dan Khazraj di Madinah juga berasal dari keturunan Qahtan, yang berpindah ke utara sebelum datang Islam. Keturunan Qahtan terbagai dalam dua bagian pokok, yaitu induk-suku Kahlan dan Himyar. Masing-masing terbagi-bagi lagi menjadi berbagai suku. Dari Kahlan menurunkan suku Tha’i, Hamdan, Madzhij, Amilah, Judzam, Kindah, dan Azd.
Qabilah keturunan Adnan yang berasal dari keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim alaihissalam beranak pinak dan melahirkan berbagai suku yang terus membengkak dan memekar sesuai perkembangan jumlahnya.
Kemudian berlanjut dengan lahirnya anak suku dan klan.
Keturunan Adnan terdiri dari suku Rabi’ah dan suku Mudhar, yang saling bermusuhan. Rabiah menurunkan anak suku Asad, Wa’il, Qais bin Ailan, Tamim, Hudzail, dan Kinanah. Baik Bani Bakr maupun Bani Taghlib yang saling bermusuhan berasal dari anak suku Wa’il. Anak suku Tamin tinggal di pedalaman Irak, dan yang lain-lain tinggah di Hijaz, sekitar Makkah.
Abdul Muthalib melaksanakan tugasnya melayani jamaah haji selama bertahun-tahun, dalam kemiskinan dan kelemahan. Ia berdoa agar diberi banyak anak lelaki. Sementara itu, ia terus mencari sumber air Zamzam, yang akhirnya ditemukan dan berhasil digali hingga mengeluarkan air yang cukup bagi keperluan orang Makkah dan pendatang.
Di antara keturunan Adan yang tercatat dengan rapi adalah sebagai berikut: Adan – Ma’ad – Nazar – Ilyas – Mudrikah – Khuzamah – Kinanah – Nazar – Malik – Fihr (Quraisy) – Ghalib – Lu’ai – Ka’ab – Murrah – Qushai – Abdul Manaf.
Qushai, ayah Abdul Manaf, adalah syaikh (pemimpin) Makkah dan kepala wilayah sekitarnya. Kekuasaan Qushai meliputi (1) pemegang kunci Kakbah dan pengurusan tempat suci, (2) hak penyediaan air dan pangan para jamaah haji, (3) hak memerintah pasukan dalam peperangan, (4) hak menyerahkan panji kepada staf pemegang panji, (5) hak memimpin dewan Dar al-Nadwa.
Sepeninggal Qushai, jabatan-jabatan itu diwariskan kepada Abdul Manaf. Abdu Manaf berputra Hasyim (442-510 M), Abdu Syam, Muthalib, dan Naufal. Ketika Abdu Manaf meninggal, jabatan kepemimpin Makkah diwariskan kepada Hasyim, Muthalib, Naufal, dan Abdu Syam.
Hasyim mendapat hak menyediakan minuman dan makanan bagi peziarah Makkah. Ia kaya dan mampu melaksanakan tugas itu dengan murah hati, sehingga terkenal di seluruh Arab. Ia juga mengurus kafilah-kafilah dagang ke Yaman pada musim dingin di Makkah, Ethiopia, Gaza, dan Syam pada waktu Makkah dalam musim panas.
Hasyim mempunyai seorang putra bernama Syaibah Al-Hamd yang tinggal dengan ibunya di Madinah. Sepeninggalan Hasyim, Muthalib menjemput  anak itu, sesuai wasiat Hasyim. Ketika sampai di Makkah, orang-orang mengira Muthalib membeli seorang budak, lalu mereka menamakannya Abdul Muthalib (budaknya Muthalib).
Sesuai wasiat Hasyim, semua kekuasaannya diserahkan oleh Muthalib kepada Abdul Muthalib, sementara Muthalib terus melaksanakan pekerjaan itu. Tidak lama, Muthalib meninggal. Abdu Syam dan Naufal, yang bersikap memusuhui Abdul Muthalib, menyerobot hak-hak anak yang masih lemah itu.
Namun para anggota famili pihak ibu Abdul Muthalib dari Madinah datang menyelamatkannya.
Abdul Muthalib memiliki banyak anak, di antaranya Harits, Zubair, Hamzah, Abbas, Abdullah (lahir pada 545 M), Abu Lahab, dan Abu Thalib.
Sepeninggal Abdul Muthalib, putra-putra ternyata tidak mampu mengemban tugasnya, sehingga urusan pelayanan makanan bagi jamaah haji dialihkan ke tangan Bani Umayah.
Sementara itu, Abbas, atas nama Bani Hasyim, hanya mengurusi air, termasuk sumur Zamzam yang dipertahankan hingga datangnya Islam.
Abdullah bin Abdul Muthalib berputra Nabi Muhammad SAW. Abu Thalib berputra Aqil, Ali, dan Ja’far. Keturunan Abdu Manaf melalui putra Hasyim disebut Bani Hasyim.
Bani Hasyim terdiri dari klan-klan Bani Abbas yang mendirikan kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad; Keturunan Ali dan Fathimah binti Muhammad menjadi para penguasa di Afrika Utara, termasuk Maroko sekarang, dan sebagian lagi memimpin pemerintahan-pemerintahan kecil di Dailam dan Thabaristan di Iran, di Yaman, di Makkah (hingga 1924 M), dan lain-lain.
Kaum Fathimiyah terdiri dari klan Husaini, dan klan Zainabi. Mereka adalah anak Fathimah dengan Ali yang bernama Hasan, Husin, dan Zainab.
Republik Dagang
Kaum Quraisy tinggal di Makkah dan sekitarnya. Makkah adalah sebuah Republik Pedagang. Sebutan dalam Al-Quran tentang “kebiasaan orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas”, merujuk perjalanan dagang musim panas ke Suriah dan musim dingin ke Yaman, dengan jaminan keamanan dari para penguasa negeri-negeri bersangkutan. Mereka sangat dihormati karena dianggap sebagai tetangga Allah (jarrullah) yang tinggal di dekat Rumah Allah (Kakbah).
Kafilah-kafilah dagang Makkah (Quraisy) cukup besar. Terdiri dari sekitar  2.500 unta dan sekitar 300 anggota kafilah. Dari Yaman, kafilah Quraisy membawa kulit, cendana, ukiran, emas dan perak, dan rempah-rempah; juga wangi-wangian asal Hadhramaut dan Yaman, tenunan Aden, serbuk emas, gading, dan budak dari Afrika, serta sutra asal Cina.
Di Mesir, pedagang Quraisy membeli barang-barang mewah  produksi industri dari kawasan Mediterania, terutama linen, sutra, kain-kain tenun bercelup. Dari Suriah, dibeli senjata, sereal, minyak yang disukai orang Badui, dan lainnya. Keuntungan yang diperoleh para pedagang Quraisy itu sekitar seratus persan dalam setiap perjalanannya.
Karena kemakmuran dan keistimewaan kaum Quraisy yang mereka terima, Allah menuntut bangsa Quraisy untuk “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik Rumah ini (Kakbah). Yang telah memberi makan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”
Sebab bangsa Quraisy menerjemahkan salah tentang Tuhan mereka. Mereka menyembah Kakbah dan patung-patung yang berada di sekitar Kakbah. Ketika Nabi Muhammad SAW diutus untuk mencapaikan risalah yang benar, yaitu menyembah Pemilik Kakbah (Baitullah), mereka menolaknya. Penolakan ini berakhir dengan ditaklukkannya Mekkah oleh Rasulullah, sehingga semua penduduk Mekkah beragama Islam, dan menyembah hanya kepada Allah SWT (“Pemilik Rumah ini”).
Surah ini sering dianjurkan untuk dibaca ketika kaum Muslimin dalam perjalanan. Sebab kesulitan terbesar dalam perjalanan adalah kurangnya makanan (dan minuman) serta gangguan keamanan, sehingga membuat mereka ketakutan.
Hal ini juga bisa dijadikan dalil bahwa sumber ketakutan itu terjadi ketika berkurangnya pasokan makanan dan minuman, serta tidak adanya keamanan lahir dan batin dalam diri seseorang. (Saiful Bahri) wartamerdeka.com/?p=711

Surat Al-Quraisy dan Kandungannya

1. Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas[1602].
3. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah).
4. yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.


Penjelasan Ayat.

Ayat 1 menjelaskan akan kebiasaan suku Quraisy. Zaman dahulu mata pencaharian pada umumnya berdagang. Kota makkah sendiri berada diantara dua Negara yang menjadi pusat perdagangan, yaitu Syam (disebelah utara) dan Yaman (sebelah selatan). Negeri Syam (sekarang syuriah) merupakan pintu perniagaan yang menuju kearah laut tengah dan negeri-negeri sebelah barat Yaman membuka jalan dagang kenegeri-negeri sebelah timur sampai ke Hindia dan tiongkok. Penyebaran Islam di Indonesia melalui perdagangan dari Arab dan Mesir.

Ayat 2 menjelaskan perjalan dagang yang dilakuakan suku Quraisy. Pada musim dingin, suku quraisy biasa melakuan perjalanan kenegeri Yaman. Pada musim panas, mereka pergi ke Syam (Suriah), jalur perdagangan musim dingin, yakni Mekkah – Taif – Asir – Sari’adalah (Yaman). Jalur musim panas terdiri dari 2 jalur yakni Mekkah – Madinah – Damaskus; Mekah – humain – Badar – ma’an (Syirqil Urdun).nabi Muhammad pada umur 12 tahun sudah ikut berdagang ke Syam. Hal itu menunjukan bagaimana kuatnya jiwa berdagang suku Quraisy. Suku Quraisy memperoleh rejeki dari Allah AWT. Guna mencukupi kebutuhan hidup.

Ayat 3 mengingatkan suku Quraisy, umat Islam pada umumnya agar selalu bersyukur atas rejeki yang diberikannya. Mereka diperintahkan untuk beribadah kepada tuhan (pemilik) Ka’bah.

Ayat 4 menjelaskan wujud kasih saying-Nya kepada paa hambanya. Manusia diperintahkan menyembah (taat) kepada-Nya. 2 alasan pertama : Allah AWT telah menjadikan Ka'ba sebagai kiblat peribadatan umat Islam dan setiap tahun dikunjungi orang beribadah haji. Kedua : mereka telah diberikan rasa aman dari kecemasan, baik kecemasan dari hidup melarat maupun dari gangguan sesame manusia.

Penutup

Surat Al-Quraisy menerangkan penghidupan orang Quraisy serta kewajiban yang seharusnya mereka penuhi.

Pokok-pokok Kandungan Surat Al-Quraisy.
Peringatan kepada orang Quraisy tentang nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepada mereka karena itu mereka diperintahkan untuk menyembah Allah.

Surat Al-Quraisy dan Kandungannya
Kemakmuran dan ketentraman seharusnya menjadikan orang berbakti kepada Allah. Kebiasaan orang Quraisy yaitu:

1) Kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.
Penjelasan :  Orang Quraisy bias mengadakan perjalanan terutama untuk berdagang ke negeri Yaman pada musim dingin. Dalam perjalanan itu mereka mendapat jaminan keamanan dari pengusaha-pengusaha dari negeri yang dilaluinya. Ini adalah suatu nikmat yang amat besar dari Tuhan kepada mereka, oleh karena itu sewajarnya mereka menyembah Allah yang telah memberikan nikmat itu kepada mereka.

2) Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (ka'bah)

3) Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.

Penjelasan:  Dalam surat Al Quraisy, Allah menyatakan bahwa dia membearkan manusia dari kelaparan.
Dalam surat Al Quraisy Allah memerintahkan menyembahnya (Allah).
artikelkuislami.blogspot.com › Al Qur'an

TAFSIR AL AZHAR oleh BUYA HAMKA QS.QURAISY AYAT 1-4 

Ada beberapa riwayat yang mengatakan bahwa di antara Surat Al-Fiil (Surat 105) dengan Surat Quraisy 106 ini pada hakikatnya adalah satu. Mereka mengatakan bahwa kaum yang bergajah itu dibinasakan oleh Tuhan sampai hancur berantakan ialah karena Tuhan hendak melindungi kaum Quraisy, sebagai jiran Allah memelihara Ka’bah-Nya. Atau mereka pertalikan ujung Surat 105 “Mereka dijadikan seperti daun kayu yang dimakan ulat,” dengan ayat 1 dari Surat 106 “Lantaran untuk melindungi kaum Quraisy.”
Tetapi menurut yang sewajarnya saja, tidaklah mungkin hanya untuk memelihara kaum Quraisy sampai Kaum Bergajah dihancurkan laksana daun kayu dimakan ulat. Mari kita tafsirkan saja sebagai biasa:
“Lantaran untuk melindungi kaum Quraisy.” (ayat 1). Yaitu: “Untuk melindungi mereka di dalam perjalanan musim dingin dan musim panas.” (ayat 2).
Kaum Quraisy pada umumnya adalah kaum saudagar perantara, yang negerinya (Makkah) terletak di tengah, di antara Utara yaitu Syam dan Selatan, yaitu Yaman. Sejak lama sebelum Islam mereka telah menghubungkan kedua negeri itu. Syam di Utara adalah pintu perniagaan yang akan melanjut sampai ke Laut Tengah dan ke negeri-negeri sebelah Barat. Yaman yang ibu kotanya sejak dahulu biasanya di Shan’aa di Selatan membuka pula jalan ke Timur sampai ke India, bahkan lebih jauh lagi sampai ke Tiongkok.
Ibnu Zaid mengatakan bahwa orang Quraisy itu melakukan dua angkatan perjalanan atau kafilah (caravan). Di musim panas mereka pergi ke Syam dan musim dingin mereka pergi ke Yaman, keduanya untuk berniaga.
Sejak zaman purbakala telah terentang jalan kafilah di antara: Makkah, Madinah dan Damaskus.
Atau: Makkah, Hunain, Badar, Ma’an (Syirqil Urdun).
Itu adalah jalan kafilah Utara.
Jalan kafilah ke Selatan: Makkah, Thaif, ‘Ashr, Yaman (Shan’aa).
Perjalanan itu dipelihara dan diperlindungi Tuhan. Dan lagi negeri Makkah itu berdiri Bait Allah (Rumah Allah) yang bernama Ka’bah, sehingga setiap musim haji orang dari luar pun berduyun ke sana menurut sunnah Nabi Ibrahim.
“Maka hendaklah mereka menyembah kepada Tuhan Rumah ini.” (ayat 3). Sebab banyaklah anugerah dan kurnia Tuhan kepada mereka lantaran adanya rumah itu.
Yaitu Tuhan: “Yang telah memberi makan mereka dari kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (ayat 4).
Karena ditambah lagi dengan berkat adanya Rumah Allah di tengah kota Makkah itu tidaklah putus-putusnya tiap tahun orang datang ke sana, di samping mereka sendiri mengadakan kafilah perniagaan ke Utara dan ke Selatan. Tidaklah pernah negeri mereka jadi daerah tertutup, sehingga selalulah makanan mereka terjamin, dan tidak ditimpa kelaparan. Disertai aman pula, sebab daerah Tanah Makkah itu dijadikan Daerah Terlarang sejak zaman Nabi Ibrahim, tidak boleh orang berperang di sana, tidak boleh binarang buruannya diburu, tidak boleh tumbuh-tumbuhannya dirusakkan. Aturan ini dihormati oleh seluruh kabilah Arab turun-temurun.
Sebab itu maka tidaklah layak orang Quraisy yang telah mendapat rahmat yang begitu baiknya dari Tuhan, kalau mereka tidak mensyukuri Tuhan. Tidaklah layak kalau mereka menolak risalat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Dan di dalam Surat ini pun telah diperingatkan, bukanlah RUMAH itu, bukanlah Ka’bah itu yang mesti disembah, melainkan Tuhan yang empunya rumah itulah yang akan disembah. Syukurilah Tuhan yang telah memperlindungi, membuat peraturan sehingga Tanah Makkah dapat aman dan sentosa, tidak disentuh dan diusik orang.
Maka menjadi lemahlah tafsir yang mengatakan bahwa kaum bergajah dibinasakan karena Allah hendak memelihara orang Quraisy, melainkan orang Quraisy itu sendirilah di dalam Surat ini yang diberi peringatan agar mereka jangan menyembah juga kepada berhala, bahkan jangan menyembah kepada Ka’bah itu sendiri, tetapi sembahlah Tuhan Yang Empunya Ka’bah itu. Maka tidaklah patut mereka menjadi orang musyrikin, menyembah berhala, menggantungkan berhala pada rumah itu sampai 360 buah banyaknya. Melainkan seyogianya merekalah yang akan menjadi pelopor menyambut seruan dan risalat yang dibawa oleh Muhammad, putera mereka sendiri, untuk diikuti oleh seluruh bangsa Arab yang semenjak zaman dulu menghormati kedudukan mereka sebagai Jiran (tetangga) Rumah Allah itu.
Di dalam Surat Al-Qashash (28) ayat 57 diperingatkan Tuhan kepada mereka bagaimana Tuhan menjadikan tanah Makkah itu jadi tempat tinggal tetap mereka, tanah suci tanah terlarang, dan segala macam makanan datang dibawa orang ke sana.
Di dalam Surat Al-‘Ankabut (29) ayat 67 diperingatkan pula, tidaklah mereka perhatikan bahwa tanah itu telah Kami jadikan Tanah Haram, tanah terlarang yang aman sentosa, padahal manusia di luar Tanah Haram itu culik-menculik, rampas-merampas, bunuh-membunuh.
Dari ayat 3 yang memberikan kesadaran bagi orang Quraisy agar mereka menyembah kepada Tuhan Yang Empunya Rumah ini dapatlah dimengerti bahwa Ummat Islam sekali-kali tidaklah menyembah kepada Rumah itu sendiri sebagai penyembah berhala, sebagaimana fitnah dan kata-kata palsu yang dikarang-karangkan oleh zending-zending Kristen untuk menuduh orang Islam menyembah berhala bernama Ka’bah. Malahan sejak zaman purbakala, seketika permulaan Perang Salib, kaum Kristen telah membuat fitnah mengatakan bahwa orang Islam menyembah berhala yang disimpan di dalam Ka’bah itu dua buah. Satu bernama Tarfagan dan satu lagi bernama Mahound. Maksud mereka ialah menimbulkan pengertian bahwa Mahound itu ialah Muhammad. Padahal dalam bahasa Jerman kalimat Hound pada Mahound itu ialah anjing.
Beginilah cara mereka melakukan propaganda!
Di Salt Lake City, Ibu Negeri Utah negeri kaum Kristen Mormon saya ziarah ke pekarangan gereja mereka, yang diberi nama Tabernacle. Di halaman itu ada patung burung. Burung itu adalah catatan kisah tatkala mereka mulai diusir dari sebelah Timur Amerika (New York) membuat negeri di sana. Mula-mula mereka menanam gandum untuk dimakan, dan hampir saja masa menuai, datanglah semacam belalang hendak memakan habis gandum yang hendak mereka ketam. Sehingga kalau jadi belalang itu hinggap, mereka akan mati kelaparan dan hasil usaha berbulan-bulan akan habis punah. Tiba-tiba sedang mereka menengadah ke udara melihat belalang atau kumbang-kumbang yang kejam itu, mereka lihat beratus ekor burung putih datang dari laut. Dalam sekejap mata burung-burung putih tersebut menyerang belalang atau kumbang itu dan memakannya habis sehingga kebun gandum penduduk Mormon itu terlepas dari bahaya berkat burung tersebut.
Sebab itu maka di muka gereja itu mereka dirikanlah patung burung tersebut, untuk menambah keyakinan mereka dalam agama mereka.
Bagi kita Ummat Islam dengan tuntunan ayat 3 Surat Quraisy ini, bukanlah burung Ababil yang melepaskan Ka’bah dari penghancuran yang disembah, dan bukan pula Ka’bah itu sendiri, melainkan Tuhan Allah, Yang Maha Kuasa, Yang Empunya Rumah tersebut. Rumah pertama yang didirikan oleh Nabi Ibrahim Khalil Allah, untuk berkumpul manusia yang menegakkan kepercayaan atas Allah Yang Maha Esa, Maha Tunggal .tafsir.cahcepu.com/quraisy/quraisy-1-4/




Minggu, 24 Mei 2015

Kisah Ashabul Fil

Kisah Ashabul Fil

Ashabul Fil atau pasukan Gajah adalah bala tentara Abrahah bin Al-Asram Al-Habsyi yang memerintah Yaman setelah Yusuf Dzu Nuwas. Raja ini berangkat menuju Mekah Al-Mukarramah pada tahun 571 M, tahun ketika Rasulullah saw dilahirkan untuk menghancurkan Ka’bah dengan maksud agar dia bias mengalihkan perhatian bangsa Arab dari Ka’bah ke Gereja Qullais yang dia bangun di Shan’a. niat menghancurkan Ka’bah tersebut semakin tumbuh manakala melihat kenyataan, gereja yang dibangunnya di Yaman bahkan tidak diindahkan oleh masyarakat Yaman sendiri. Mereka bahkan tetap berbondong-bondong berziarah ke Ka’bah di Mekah.
Saat penyerbuan, di bagian terdepan dari pasukan bergajah itu terdapat seekor gajah yang sangat besar. Sebuah riwayat menyebutkan, ketika Abrahah bersiap-siap memasuki Mekah dan menyiapkan Gajah yang besar ini untuk melakukan perjalanan, tiba-tiba Gajah itu duduk menderum. Lalu, mereka berusaha menyuruhnya berdiri, tapi mereka tidak mampu membuatnya beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, mereka menghadapkannya kea rah Syam, gajah itu pun berlari. Setelah itu mereka mengarahkannya ke Yaman, gajah itu pun melaju. Akan tetapi, ketika diarahkan ke Mekahgajah itu tidak mau beranjak.

Di dekat Mekah Al-Mukarramah, Abrahah dan bala tentaranya merampas harta masyarakat Arab. Di antara harta yang dirampasnya adalah unta milik Abdul Mutalib bin Hasyim, kakek Rasulullah saw. Ketika Abdul Mutalib meminta unta tersebut kepada Abrahah, Abrahah terperanjat kaget seraya berkata, “Apakah hanya untuk dua ratus ekor unta ini engkau menemuiku? Sementara, engkau meninggalkan sebuah rumah yang menjadi agamamu dan agama nenek moyangmu. Kini aku datang untuk menghancurkannya, apakah engkau tidak hendak membicarakannya kepadaku?”

Abdul Mutalib pun berucap, “Sesungguhnya, aku adalah pemilik unta ini dan sesungguhnya rumah itu sudah memiliki pemiliknya sendiri yang akan melindungi darimu”.

Dzu Nafar, seorang bangsawan Arab, mengerahkan masyarakatnya untuk menahan gerak maju Abrahah. Akan tetapi, dia dikalahkan dan ditawan. Nufail bin Habib Al-Khat’ami memimpin pasukan Kabilah Syahran dan Nahis. Namun, dia juga dikalahkan dan dijadikan penunjuk jalan bagi Abrahah dan pasukannya adalah seorang pengkhianat bernama Abu Righal. Sekarang kuburannya terletak di Mughammas, satu tempat yang terletak di jalanan menuju Ta’if.

Allah swt, mengirimkan burung-burung Ababil (serombongan demi serombongan) untuk melempari pasukan Abrahah dengan batu yang terbuat dari tanah liat yang sudah terbakar. Lalu, dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat sebab angin menghembuskannya ke kanan dank e kiri sehingga bertebaran. Kisah ini terdapat dalam surah Al-Fil.

Sumber: Syaamil Al-Qur'an. The Miracle
khadijahtabrani.blogspot.com/2012/05/kisah-ashabul-fil.html

Silahkan kunjungi website ini http://www.khodijahenterprise.com/
AL-ASHABU ‘L-FIL الشاب الفيل
“The Companions of the Elephant.” A term used in the Chapter of the Elephant, or the cvth Surah :- “Hast thou not seen how thy Lord dealt with the companions of the elephant? Did He not cause their stratagem to miscarry? And He sent against them birds in flocks small stones did they hurl down upon them, and he made them like stubble eaten down!”
This refers to the army of Abrahah, the Christian king of Abyssinia and Arabia Fe1ix, said to have been lost, in the year of Muhammad’s birth, in an expedition against Makkah for the purpose of destroying the Ka’bah. This army was cut off by small pox, and there is no doubt, as the Arabic word for small-pox also means “small stones,” in reference to the hard gravelly feeling of the pustules, what is the true interpretation of the fourth verse of this Surah, which, like many other poetical passages in the Qur’an, has formed the starting point for the most puerile and extravagant legends.
AL-ASHABU 'L-FIL الشاب الفيل
"Para sahabat Gajah." Sebuah istilah yang digunakan dalam Bab Gajah, atau cvth Surah: - "Apakah kamu tidak melihat bagaimana Tuhanmu berurusan dengan sahabat gajah? Apakah Dia tidak menyebabkan siasat mereka untuk keguguran? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung dalam kawanan batu-batu kecil yang mereka melemparkan ke atas mereka, dan ia membuat mereka seperti jerami dimakan turun! "
Hal ini mengacu pada tentara Abrahah, raja Kristen Abyssinia dan Saudi Fe1ix, dikatakan telah hilang, pada tahun kelahiran Muhammad, dalam sebuah ekspedisi melawan Makkah untuk tujuan menghancurkan Ka'bah. Tentara ini dipotong oleh cacar, dan tidak ada keraguan, seperti kata Arab untuk cacar juga berarti "batu-batu kecil," mengacu pada perasaan serak keras dari pustula, apa interpretasi yang benar dari ayat keempat Surat ini, yang, seperti banyak ayat-ayat puitis lainnya dalam Al-Qur'an, telah membentuk titik awal untuk legenda yang paling kekanak-kanakan dan boros.
Berdasarkan Hughes, Dictionary of Islam

Al-Ashabu’l Fil www.juancole.com › Wikis › Dictionary of Islam

In the year of the elephant
When Abraha was plotting to attack the Holy Kaba, Abdul Muttalib came to him to discuss matters for war. Expecting him to ask him to take his army and leave, Abraha was astonished when Abdul Muttalib only asked for the safe return of his camels. In amazement to this request, he said, “When my eyes fell upon you, I was so impressed by you that had you requested me to withdraw my army and go back to Yemen, I would have granted that request. But now, I have no respect for you. Why? Here I have come to demolish the House which is the religious center of yours and of your forefathers and the foundation of your prestige and respect in Arabia, and you say nothing to save it; instead, you ask me to return your few camels back to you?!”
To this, ‘Abdul-Muttalib said: “I am the owner of the camels, (therefore, I tried to save them), and this House has its own Owner Who will surely protect it.” Abraha was stunned by this reply. He ordered the camels to be released, and the deputation of Quraish returned.
[information gathered from al-islam.org]
Pada tahun gajah
Ketika Abrahah sedang merencanakan untuk menyerang Ka'bah Kudus, Abdul Muttalib datang kepadanya untuk membahas hal-hal untuk perang. Mengharapkan dia untuk meminta dia untuk mengambil pasukannya dan meninggalkan, Abrahah heran ketika Abdul Muthalib hanya meminta pengembalian aman unta-untanya. Takjub permintaan ini, katanya, "Ketika mata saya jatuh pada Anda, saya sangat terkesan dengan Anda yang memiliki Anda meminta saya untuk menarik pasukan dan kembali ke Yaman, saya akan mengabulkan permintaan itu. Tapi sekarang, saya tidak menghormati Anda. Mengapa? Di sini saya datang untuk menghancurkan rumah yang merupakan pusat agama Anda dan nenek moyang Anda dan dasar prestise dan penghormatan di Saudi, dan Anda mengatakan apa-apa untuk menyimpannya; sebaliknya, Anda meminta saya untuk kembali beberapa unta Anda kembali kepada Anda ?! "
Untuk ini, "kata Abdul Muthalib:" Akulah pemilik unta, (oleh karena itu, saya mencoba untuk menyelamatkan mereka), dan rumah ini memiliki pemilik sendiri yang pasti akan melindunginya. "Abrahah terpana oleh jawaban ini. Dia memerintahkan unta yang akan dirilis, dan utusan Quraisy kembali.

[Informasi yang dikumpulkan dari al-islam.org]
www.tumblr.com/tagged/ashabul-fil



Kamis, 21 Mei 2015

Kisah Ashabul jannah


Kisah Ashabul jannah

Ashabul Jannah berada di Dharawan, sebuah wilayah dekat Shan’a yang diberi nama dengan nama lembah yang ada di bagian ujungnya. Itulah tanah yang disebutkan Allah swt di dalam kitab-Nya yang mulia. Itulah tempat yang paling baik di muka bumi Allah, yang paling banyak buah-buahannya.
Kisah Ashabul Jannah (pemilik-pemilik kebun) yang tertera dalam surah Al-Qalam ayat 17-33, yang intinya karena Ashabul Jannah itu tidak mau bersedekah kepada fakir miskin, Allah swt menghancurkan kebun milik mereka tersebut.
Kisah dan azab yang menimpa mereka ini sebagaimana terdapat di dalam tafsir firman Allah swt, “ketika mereka bersumpah”. Artinya bersumpah diantara mereka. “Bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik hasilnya pada pagi hari yaitu pada waktu shubuh sekiranya orang fakir dan orang yang membutuhkan tidk melihat mereka sehingga mereka tidak harus memberikan hasil kebun itu kepadanya. Oleh karena itu, Allah menurunkan bencana kepada mereka, yaitu kebun itu menjadi hangus, tidak ada yang tertinggal dan tidak bisa diambil manfaatnya sedikit pun. “Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, sebagian dari mereka memanggil sebagian yang lain, seraya berkata. “Pergilah pada waktu pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya”. Artinya, “Berangkatlah pagi-pagi ke kebunmu lalu petiklah hasilnya sebelum datang waktu siang dan sebelum datang pula orang yang meminta-minta.”

“Maka, pergilah mereka saling berbisik.” Mereka saling berkata di antara mereka dengan cara rahasia. “Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.” Mereka berjalan pergi ke kebun itu dengan niat buruk, padahal sebenarnya mereka mampu memberikan sebagian hasilnya kepada orang miskin. Ikrimah dan Syi’by mengatakan, “Dan berangkatlah mereka pada pagi hari dengan niat menghalangi orang-orang miskin.” Artinya mereka tidak menyukai kedatangan orang-orang miskin. “tatkala mereka melihat kebun itu. “Yakni ketika mereka telah sampai ke kebun itu dan mereka melihat apa yang telah terjadi dengan kebun mereka, sebelumnya mereka lihat kebun itu dengan penuh buah-buahan yang baik-baik, lalu ternyata kebun itu berubah, disebabkan jeleknya niat mereka. Kemudian mereka berkata, Sesungguhnya, kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan) bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya). Berkatalah seseorang yang paling baik pikirannya diantara mereka.’ Yaitu seseorang dari mereka yang paling adil dan paling baik. Hal ini sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas, Mujahid, dan selain keduanya. Dia (orang yang paling baik di antara mereka) mengatakan, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Tuhanmu)?” di antara mereka ada yang mengatakan, “Hendaklah kamu mengatakan Insya Allah”. Ada pula yang mengatakan, “Hendaklah kalian mengatakan dengan baik sebagai ganti dari ucapan buku kalian.”

Mereka mengucapkan, “Maha suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” Maka mereka menyesal, namun penyesalan itu sudah tidak ermanfaat lagi bagi mereka. “seperti itulah azab dunia. “ artinya “Demikianlah kami menyiksa orang yang menentang perintah Kami dan tidak mau bersedekah kepada makhluk Kami, yaitu orang-orang yang membutuhkannya.”

“Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar. Yakni lebih besar dan lebih pasti ditegakkan hukumnya daripada siksa di dunia jika mereka mengetahui.”

Sumber: Syaamil Al-Qur'an. The Miracle
Silahkan kunjungi website ini http://www.khodijahenterprise.com/
khadijahtabrani.blogspot.com/2012/05/kisah-ashabul-jannah.html

ASHABUL JANNAH

Cerita Surga (insyaALLAH)


Fathimah Az-zahra dan Gilingan Gandum
Suatu hari masuklah Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra rha. Didapatinya anandanya sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada anandanya, "apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis". 

Fathimah rha. berkata, "ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumah tanggalah yang menyebabkan ananda menangis". Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. 

Fathimah rha. melanjutkan perkataannya, "ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta Ali (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah". 

Mendengar perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya "Bismillaahirrahmaanirrahiim". Penggilingan tersebut berputar dengan sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya sedangkan penggilingan itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya. 

Rasulullah SAW berkata kepada gilingan tersebut, "berhentilah berputar dengan izin Allah SWT", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu dapat bertutur kata. 

Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, "ya Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi : (artinya) 

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan". 

Maka hamba takut, ya Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "bergembiralah karena engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam sorga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu kemudian diamlah ia.

Rasulullah SAW bersabda kepada anandanya, "jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat. 

Ya Fathimah, perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat. 

Ya Fathimah perempuan mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. 

Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang bertelanjang. 

Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air telaga Kautshar pada hari kiamat. 

Ya Fathimah, yang lebih utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do'akan kamu. Tidaklah engkau ketahui wahai Fathimah bahwa ridha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu dari kemarahan Allah SWT? 

Ya Fathimah, apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan darinya seribu kejahatan. 

Apabila ia mulai sakit hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. 

Apabila ia melahirkan anak maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.

Perempuan mana yang melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah. 

Ya Fathimah, perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan memandangnya dengan pandangan rahmat. 

Ya Fathimah perempuan mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit (malaikat), "teruskanlah 'amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang". 

Ya Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah SWT akan meringankan sakarotulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman-taman sorga serta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan selamatlah ia melintas di atas titian Shirat".
sahabatsurga.blogspot.com/2012/11/cerita-surga-insyaallah.html

Sejarah Ashabul Jannah

Ashabul Jannah adalah kisah yang diterangkan di dalam AL – Qur’an mengenai para pemilik kebun  yang tidak mau berbagi dengan fakir miskin. Akibat dari keengganan mereka tersebut, kebu – kebun mereka dihancurkan oleh Allah melalui kebakaran yang dahsyat.


              Sebuah pendapat mengatakan bahwa Ashabul Jannah dalam AL – Qur’an surah AL – Qalam ini adalah pemilik – pemilik kebun dari penduduk yang bertempat tinggal di kampung Dharawan, Yaman. Dikatakan bahwa pemilik kebun itu bersaudara. Kebun itu merupakan warisan dari bapak mereka yang ahli sedekah. Ketika kebun itu diserahkan kepada anak – anaknya, maka mereka berubah, tidak mengikuti perilaku bapak mereka. Mereka tidak mau memberikan hasil kebun itu kepada fakir miskin. Maka, sebagai balasannya, Allah menurunkan azab kepada mereka.
            Pelajaran ini sangat berharga bagi kita untuk tidak meremehkan, menelantarkan, atau bahkan menghina fakir miskin. Cukup besar ternyata azab yang diberikan Allah Swt kepada orang yang tidak ingin menyantuni kaum fakir dan miskin.
            Bukan azab di akhirat saja, melainkan juga tempak jelas azab di dunia. Dalam QS –  AL – Mudassir : 42 – 44 dijelaskan bahwa di antara orang yang masuk Neraka Saqar adalah mereka yang tidak mau memberikan makan fakir miskin. Karena itu, Rasulullah saw pernah berpesan kepada istrinya, “ CIntailah orang miskin dan akrablah dengan mereka, Allah akrab juga dengan engkau pada hati kiamat.” ( HR. Al – Hakim )
www.gamais.sch.id/2012/03/sejarah-ashabul-jannah.html
SMPIT GAMEEL AKHLAK

kisah ashabul

jannah..

<< KISAH ASHABUL JANNAH>>>
AShabul Jannah berada di Dharawan  sebuah wilayah dekat Shan’a yang di   beri nama dengan nama lembah yang ada di bagian ujung nya, itulah tanah  yang di sebut Allah swt di dalam kitabNya yang mulia. Itulah tempat yang  paling baik di muka bumi Allah, yang paling banyak buah buahan nya ,[   Mu’jam Al Buldan 111;456]  Kisah Ashabul Jannah[ pemilik pemilik kebun] yang tertera dalam surat Al   Qolam ayat17-33, yang intinya karena Ashabul Jannah itu tidak mau bersedekah. Kepada fakir miskin. Allah Swt  menghancurkan kebun milik  mereka tersebut. Kisah dan azab yang menimpa mereka ini sebagaimana terdapat di dalam tafsir] Firman Allah swt ketika mereka bersumpah :’’ artinya bersumpah di antara mereka , bahwa mereka sungguh sungguh akan memetik hasilnya pada pagi hari, yaitu pada waktu subuh sekiranya orang fakir dan orang yang membutuhkan tidak melihat mereka, sehingga mereka tidak harus memberikan hasil kebun itu kepadanya., oleh karena itu Allah menurunkan bencana kepada mereka yaitu kebun itu menjadi hangus. Tidak ada yang tertinggal dan tidak bisa di ambil manfaatnya sedikit pun. “lalu kebun itu diliputi malapetaka yang datang dari Tuhan mu ketika mereka sedang tidur. Maka jadi lah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita. Artinya seperti malam yang gelap gulita tanpa cahaya.
Lalu mereka panggil memanggil pada pagi hari, mereka bangun  dari tidur, sebagian dari mereka memanggil sebagian yang lain, seraya berkata; pergilah pada waktu pagi ke kebun mu, jika kamu hendak memetik buah nya.’’artinya ; berangkatlah pagi pagi kekebun mu lalu petik lah hasil nya sebelum datang waktu siang, dan sebelum datang pula orang yang meminta minta.’’
‘’Maka pergilah mereka saling berbisik, mereka saling berkata di antara mereka dengan cara rahasia.,:”pada hari ini jangan lah  ada seorang miskin pun masuk kedalam kebun mu, mereka berjalan pergi ke kebun itu dengan niat buruk. Padahal sebenarnya mereka mampu memberikan sebagian hasilnya pada orang miskin. Ikrimah dan Syi’by mengatakan; Dan berangkat lah mereka pada hari dengan niat menghalangi orang orang miskin, artinya mereka tidak menyukai orang orang miskin, Tat kala mereka melihat kebun itu, yakni ketika mereka telah sampai ke kebun itu, dan mereka melihat apa yang telah terjadi dengan kebun mereka, sebelumnya mereka liat kebun itu penuh dengan buah buahan yang baik, lalu ternyata kebun itu berubah di sebab kan jeleknya niat mereka., kemudian mereka berkata” sesungguhnya kita , benar benar orang-orang yang sesat [jalan], bahkan kita di halangi ; [dari memperoleh hasilnya,].  Berkata seseorang yang paling baik pikiran nya di antara mereka yaitu seseorang dari mereka yang paling adil dan paling baik., Hal ini sebagaimana yang di katakana oleh Ibnu Abbas , mujahid dan selain keduanya, Dia[ orang yang paling baik di antara mereka]. Mengatakan ;”Bukan kah aku telah mengatakan kepadamu, hendak lah kamu bertasbih  [kepada Tuhan mu]? Di antara mereka ada yang mengatakan , Hendak lah kamu mengatakan Insya Allah’’ Adapula yang mengatakan; hendak lah kalian mengatakan dengan baik sebagai ganti ucapan buruk kalian.,’’ “Mereka mengucapkan ;Maha suci Tuhan kami, , sesungguhnya kami adalah orang orang yang zalim, ‘’Maka, mereka menyesal, namun penyesalan itu sudah tidak bermanfaat lagi bagi mereka. ‘Seperti itulah azab[ dunia],Artinya :Demikian lah kami menyiksa orang yang menentang perintah Kami dan tidak mau bersedekah kepada mahkluk Kami , yaitu orang orang yang membutuh kan nya.Dan sesungguhnya Azab akhirat lebih besar yakni lebih dan lebih pasti di tegakkan hukumnya dari pada siksa  di dunia jika mereka mengetahui.’’
Pelajaran ini sangat berharga bagi kita untuk tidak meremehkan , melantarkan, atau bahkan menghina orang orang fakir dan miskin, cukup besar ternyata azab yang di berikan Allah Swt kepada orang yang tidak menyantuni kaum  fakir miskin.
Bukan azab di akherat saja , melainkan juga tanpak jelas azab di dunia.
Dalam  Qs Al Muddassir 74; 42-44, di jelaskan bahwa di antara orang  yang
masuk neraka saqar mereka yang tidak mau memberi makan orang miskin.
Karena itu Rasulullah  Saw pernah berpesan kepada istrinya;
“Cintailah orang miskin dan akrablah dengan mereka, Allah akrab juga dengan engkau pada hari kiamat,’’[Hr, Al Hakim]….,[kisah dalam Alquran]
, semoga bermanfaat .  .by Rosita panigoro..
https://umikarisma.wordpress.com/2012/06/27/kisah/

Kisah Ashabul Jannah (Pemilik Kebun)

Kisah Ashabul Jannah menceritakan tentang seseorang yang Allah Ta’ala karuniai kebun yang luas, penuh dengan buah-buahan. Sang pemilik kebun tak lupa menyedekahkan sebagian hasil kebunnya untuk orang fakir. Sampai suatu ketika, sang pemilik kebun meninggal, kebun ini diwariskan untuk anak-anaknya. Ternyata sifat sang anak sangat berbeda dengan ayahnya. Mereka tidak mau menyedekahkan hasil kebun untuk orang fakir, bahkan mereka memanen hasil kebun mereka pagi-pagi sekali agar orang miskin tidak mendengar dan masuk ke kebun mereka. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Silakan download free ebooknya di sini.