Senin, 06 Oktober 2014

Doa Sebelum Tidur Sesuai Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alahi wa Sallam

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيَ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ
‘Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan semua urusanku kepada-Mu, aku menyandarkan punggungku ke-pada-Mu. Karena mengharap dan takut kepada-Mu. Sesungguhnya tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari (ancaman)-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau utus.”
      
Keterangan: Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila engkau mati pada malam itu, maka engkau mati diatas fitrah (Islam). Dan jadikanlah kalimat (dzikir) itu sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan.” (HR. Al-Bukhari no. 247, 6311, 6313, 6315 dan 7488, Muslim no. 2710, Abu Dawud no. 5046, at-Tirmidzi no. 3394, dan Ahmad IV/290).

Doa Paling Shahih Saat Berbuka Puasa

bismillahirahmanirahim.



للَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ                                              
"Ya Allah untuk-Mu aku berpuasa, dan atas Rizki-Mu aku berbuka." (HR. Abu Dawud dari Mu'adz bin Zuhrah, no. 2011 dari Maktabah Syamilah. "Telah hilang rasa dahaga, dan dan telah basah kerongkongan, serta telah tetap pahala insya Allah."
                                                                                                                                                             Doa di atas disandarkan pada hadits Ibnu 'Umar Radhiyallahu 'Anhuma yang menuturkan,
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      
                                                                                        كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ         قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ                                                                              
                                                                                                                                                             
"Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila berbuka beliau berdoa Dzahaba Dzoma’u Wabtallatil ‘Uruuqu Wa Tsabatal Ajru Insya Allah." (HR. Abu Dawud no. 2357, al-Daruquthni, no. 2242. Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, no. 2066 menghukuminya sebagai hadits hasan, al-Imam al-Daruquthni mengatakan: Isnadnya hasan, Al-Hakim mengatakan: Ini hadits shahih, dan Al-Hafidz Ibnul Hajar mengatakan: Ini hadits hasan)

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

PERJALANAN SANG PRABU SILIHWANGI

Kisah Prabu Siliwangi sangat dikenal dalam sejarah Sunda sebagai Raja Pajajaran. Salah satu naskah kuno yang menjelaskan tentang perjalanan Prabu Siliwangi adalah kitab Suwasit.Kitab yg di tulis dngn menggunakan bhs.sunda kuno di dalam selembar kulit Macan putih yg di temukan di desa pajajar Rajagaluh jawa barat.
Prabu Siliwangi seorang raja besar pilih tanding sakti Mandraguna,Arif  & Bijaksana Memerintah Rakyatnya di kerajaan Pakuan Pajajaran Putra Prabu Anggalarang atau Prabu dewa Niskala Raja dari kerajaan Gajah dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh di Ciamis Jawa barat.
Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Sejak kecil beliau Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati di kerajaan singapura
(seblum bernama kota cirebon).
Setelah Raden pemanah Rasa Dewasa & sudah cukup ilmu yg di
ajarkan oleh ki gedeng sindangkasih.
Beliau kembali ke kerajaan Gajah untuk Mengabdi kepada ayahandanya prabu Angga Larang/dewa Niskala.
Setelah itu Raden pemanah Rasa Menikahi Putri  ki gedeng sindangkasih.
Yg bernama nyi Ambet kasih.
Ketika itu Kerajaan gajah dalam pemerintahan Prabu dewa Niskala atau prabu Angga Larang sedang dlm masa keemasanya.
Wilayahny terbentang Luas dari Sungai Citarum Di karawang yg berbatasan Langsung dengan kerajaan Sunda,smpai sungai ci-pamali berbatasan Dengan Majapahit.
Silsilah Prabu Siliwangi sebagai keturunan ke-11 dari Maharaja Adimulia.
MAHA RAJA ADI MULYA / RATU GALUH AJAR SUKARESI Menikahi Dewi Naganingrum / Nyai Ujung Sekarjingga berputra :
1.PRABU CIUNG WANARA berputra :
2.SRI RATU PURBA SARI  berputra :
3.PRABU LINGGA HIANG berputra :
4.PRABU LINGGA WESI berputra :
5.PRABU SUSUK TUNGGAL berputra :
6.PRABU BANYAK LARANG berputra :
7.PRABU BANYAK WANGI berputra :
8.PRABU MUNDING KAWATI / PRABU LINGGA BUANA berputra :
9.PRABU WASTU KENCANA ( PRABU NISKALA WASTU KANCANA )berputra :
10.PRABU ANGGALARANG ( PRABU
DEWATA NISKALA ) menikahi Dewi Siti Samboja / Dewi Rengganis berputra :
11.SRI BADUGA MAHA RAJA PRABU SILIHWANGI/PRABU PEMANAH RASA (1459-1521M)
Pada suatu Hari Prabu AnggaLarang Geram karna Banyak dari penduduknya di muara jati yg beragama Hindu Pindah keagama Baru yg Dibawa oleh Alim Ulama dari Campa kamboja bernama Syekh Quro
Agama tersebut Bernama islam.
Maka di Utuslah Beberapa orang kepercayaannya Untuk Mengusir Ulama itu dari tanah jawa.
Konon kabarnya,Ulama besar yang
bergelar Syekh Qurotul’ain dengan nama aslinya Syekh Mursyahadatillah atau Syekh Hasanudin.beliau adalah seorang yang arif dan bijaksana dan termasuk seorang ulam yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya.
Syekh Quro adalah putra ulama besar
Mekkah,penyebar agama Islam di negeri Campa (Kamboja) yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih keturunan dari Sayidina Hussen Bin Sayidina Ali RA.dan
Siti Fatimah putri Rosulullah SAW.
Sebelum Beliau datang ke tanah jawa sekitar tahun 1409 Masehi,Syekh Quro pertama kali menyebarkan Agama islam di negeri Campa Kamboja ,lalu ke daerah Malaka dan dilanjutkan ke daerah Martasinga Pasambangan dan Japura akhirnya sampailah ke Pelabuhan Muara Jati yg saat itu syahbandar di gantikan oleh ki gedeng Tapa karna Ki gedeng sindangkasih telah Wafat.
Disini beliau disambut dengan baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati,yang masih keturunan Prabu Wastu Kencana Ayah dari Prabu Anggalarang dan, oleh masyarakat sekitar.
mereka sangat tertarik dengan
ajaran yang disampaikan oleh Syekh Quro yang di sebut ajaran agama Islam.
Sampailah para utusan itu di depan pondokan syech Quro,Utusan itu Menyampaikan Perintah dari Rajanya Agar penyebaran agama Islam di muara jati Harus segera dihentikan.
Perintah dari Raja Gajah tersebut
dipatuhi oleh Syeh Quro.namun,kepada utusan prabu Anggalarang
yang mendatangi Syekh Quro,beliau
mengingatkan,meskipun ajaran agama Islam dihentikan penyebarannya.
tapi kelak, dari keturunan Prabu Anggalarang akan ada yang menjadi seorang Wali Allah.
Beberapa saat kemudian beliau pamit
pada Ki Gedeng Tapa untuk kembali ke negeri Campa,di waktu itu pula Ki Gedeng Tapa menitipkan putrinya yang bernama Nyi Mas Subang Larang,untuk ikut dan berguru pada Syekh Quro.
BerangkatLah Syeh Quro bersama Nyi subang Larang dngn menggunakan Perahu kembali ke negri campa kamboja.
Sebagai Seorang putra Raja Beliau tidak Betah tinggal diam di istana,Raden Pamanah Rasa kerap mengembara Menyamar menjadi Rakyat Jelata dari daerah satu ke daerah Lainya,Menolong yg Lemah & Memberantas Keangkaramurkaan.
Gemar bertapa & mencari kesaktian,
Di dalam salah satu pengembarannya, Ketika beliau hendak beristirhat di Curug / air terjun,curug itu bernama Curug Sawer yg terletak di daerah Majalengka,Raden pemanah Rasa dihadang oleh siluman Harimau Putih Pertempuran pun tak terelakkan.
Raden Pamanah Rasa dan Siluman Harimau Putih yang diketahui memiliki kesaktian tinggi itu pun bertarung sengit hingga Setengah Hari,Namun kesaktian Prabu Pamanah Rasa berhasil
memenangi pertarungan dan membuat siluman Harimau Putih tunduk kepadanya.
Harimau Putih itu memberi sebuah pusaka yg terbuat dari kulit Macan,
Dengan pusaka itu beliau bisa Terbang Laksana burung,Menghilang tak terlihat oleh mata (ajian Halimun),berjalan secepat angin (Ajian saepi Angin)& Bisa Mendatangkan Bala tentara Jin.

Harimau itupun memutuskan untuk mengabdi kepada Raden Pamanah Rasa sebagai pendamping beliau.
Dengan tunduknya Raja siluman Harimau Putih,maka meluaslah wilayah kerajaan Gajah.
Siluman Harimau Putih beserta pasukannya selanjutnya dengan setia mendampingi dan membantu Raden Pamanah Rasa.
Salah satunya kala kerajaan Gajah
menundukkan kerajaan2 yg Memeranginya.Siluman Harimau Putih juga turut membantu Raden Pamanah rasa saat kerajaan Pajajaran diserang oleh pasukan Mongol pada Masa kekaisaran Kubilai khan.
Karna Jasa-jasa Anaknya yg begitu besar dalam Kejayaan kerajaan gajah,maka diangkatlah Raden pemanah Rasa sebagai Raja kedua di kerajaan tersebut.
Prabu Pamanah Rasa pun selanjutnya
mengubah nama kerajannya menjadi
kerajaan Pajajaran. Yang berarti menjajarkan atau menggabungkan kerajaan Gajah dengan kerajaan Harimau Putih.
Seiring meluasnya wilayah kerajaan Gajah,Prabu Pamanah Rasa kemudian membuat senjata sakti yang pilih tanding.
Beliau menyuruh Eyang Jaya Perkasa untuk membuat senjata pisau berbentuk harimau sebanyak tiga Buah,Dalam Tiga Warna, yaitu Kuning, Hitam, Putih.
Senjata pertama yang berwarna hitam,dibuat dari batu yang jatuh dari langit yang sering disebut meteor, yang dibakar dengan kesaktian Prabu Pamanah Rasa Dalam membentuk besi yang diperuntukkan untuk membuat senjata tersebut.
Senjata Kedua dibuat dari air,api yang dingin,yang warnanya kuning dibekukan menjadi besi kuning, Senjata ketiga dari besi biasa yang direndam dalam air hujan menjadi putih berkilau.
Senjata itu selesai dalam waktu tujuh hari.

semalam penuh Pengeran Pamanah
Rasa memikirkan nama untuk senjata sakti tersebut,tepat ayam berkokok ditemukan nama untuk ketiga barang tersebut,Pisau pusaka itu di beri nama KUJANG (Senjata Berbentuk Harimau), dikarenakan
Pusaka itu ada tiga,Maka kujang tersebut di beri nama KUJANG

TIGA SERANGKAI,yang Artinya
BEDA-BEDA TAPI TETAP SAMA.

Senjata itu berbentuk melengkung dengan ukiran harimau di gagangnya. Ukiran harimau di gagang Kujang konon sebagai pengingat terhadap pendamping setianya, siluman
Harimau Putih.
Dan pusaka itu yg kini menjadi lambang dari propinsi Jawa Barat,
Beberapa Tahun kemudian Syekh Quro datang kembali ke negeri Pajajaran beserta Rombongan para santrinya,dengan menggunakan Perahu dagang dan serta didalam rombongan adalah,Nyi Mas Subang Larang,Syekh Abdul Rahman.Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom.
Setelah Rombongan Syekh Quro melewati Laut Jawa dan Sunda Kelapa dan masuk Kali Citarum,yang waktu itu di Kali tersebut ramai dipakai Keluar masuk para
pedagang ke Pajajaran,akhirnya
rombongan beliau singgah di Pelabuhan Karawang.
Menurut buku sejarah masa silam Jawa Barat yang terbitan tahun 1983
disebut,Pura Dalem.
mereka masuk Karawang sekitar 1416 M.yang mungkin dimaksud Tangjung Pura,dimana kegiatan Pemerintaahan dibawah kewenangan Jabatan Dalem..Karena rombongan tersebut,sangat menjunjung tinggi peraturan kota Pelabuhan,sehingga aparat setempat sangat menghormati dan,memberikan izin untuk mendirikan Mushola ( 1418 Masehi) sebagai sarana Ibadah sekaligus tempat tinggal mereka.Setelah beberapa waktu berada di
pelabuhan Karawang,Syekh Quro
menyampaikan Dakwah-dakwahnya di Mushola yang dibangunya (sekarang Masjid Agung Karawang ).dari urainnya mudah dipahami dan mudah diamalkan,ia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an menjadi daya
tarik tersendiri di sekitar karawang.
Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya,Nyi Subang Larang,Syekh Abdul
Rohman,Syekh Maulana Madzkur dan
santri lainnya seperti ,Syekh Abdiulah
Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Modafah alias Ayekh Maghribi keturunan dari sahabat nabi (sayidina Usman bin Affan).

Berita kedatangan kembali Syekh
Quro,rupanya terdengar oleh Prabu
Anggalarang yang pernah melarang
penyebaran agama islam di muara jati,sehingga Prabu Anggalarang
mengirim utusannya.untuk menutup
pesantren Syekh Quro dengan paksa.
utusan yang datang itu adalah Putra Mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa.
sesampainya di depan pesantren Raden pemanah Rasa tertambat hatinya oleh alunan suara merdu yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Larang,”Saat menlantunkan Ayat-ayat Al-Qur’an,”
Prabu Pamanah Rasa akhirnya
mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut.
Atas kehendak yang Maha Kuasa Prabu Pamanah Rasa,menaruh perhatian khususnya pada Nyi Subang Larang yang cantik dan
merdu suaranya.
Beliau pun menyampaikan keinginanya untuk mempersunting Nyi Subang Larang sebagai permaisurinya.
Pinangan tersebut diterima tapi,dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus,yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berdzikir.
Selain itu,Nyi Subang Larang mengajukan syarat lain agar kelak anak-anak yang lahir dari mereka harus menjadi Raja.
seterusnya menurut cerita,semua
permohonan Nyi Subang Larang
disanggupi oleh Raden Pamanah
Rasa.Atas petunjuk Syekh Quro,Prabu
Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah.
Di tanah suci Mekkah,Prabu Pamanah
Rasa disambut oleh seorang kakek
penyamaran dari Syekh Maulana Jafar Sidik.
Prabu Pamanah Rasa merasa
keget,ketika namanya di ketahui oleh
seorang kakek.Dan Kekek itu, bersedia
membantu untuk mencarikan Lintang
Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat.Sang Prabu Pamanah Rasa denga tulus dan ikhlas mengucapkan,Dua Kalimah Syahadat.yang makna pengakuan pada Allah SWT,sabagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan, Muhammad
adalah utusannya.
Semenjak itulah,Prabu Pamanah Rasa
Atau prabu silihwangi masuk agama Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh,mulai dari itu,Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya.
Setelah itu Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke Kraton Pajajaran,Untuk melangsungkan pernikahannya denga Nyi Subang Larang waktu terus berjalan maka pada tahun 1422 M,pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro dan
dipimpin y oleh Syekh
Quro.

Hasil dari pernikahan tersebut mereka
dikarunai 3anak yaitu:
1.Raden Walangsungsang/kian santang( 1423 Masehi)
2.Nyi Mas Rara Santang ( 1426 Masehi)
3.Raja Sangara ( 1428 Masehi).
Nama Silihwangi pun & dikenal sebagai raja yang mencintai rakyatnya.
Dia meminta agar pajak hasil bumi tidak memberatkan rakyat. Dia juga mengatur pemerintahan dengan cukup baik sehingga Pajajaran disegani.
Kemudian Prabu Silihwangi Menikahi putri Prabu Susuktunggal Raja dari kerajaan Sunda,yg bernama
KENTRING MANIK MAYANG SUNDA

Jadilah antara Raja Sunda dan Raja Galuh yang seayah ini menjadi besan.Pada tahun 1482 , Prabu Dewa Niskala menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh kepada puteranya Raden pemanah Rasa atau Jaya Dewata.
Demikian pula dengan Prabu
Susuktunggal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini(Jayadewata).
Dengan peristiwa yang terjadi pada tahun 1482 itu, kerajaan
warisan Wastu Kencana berada kembali dalam satu tangan.
PRABU SILIHWANGI.
Beliau memutuskan untuk berkedudukan di Pakuan sebagai "Susuhunan" karena ia telah lama tinggal di sina menjalankan pemerintahan sehari-hari mewakili mertuanya. Sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan.
Zaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Prabu Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja prabu silihwangi yang memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521).
Pada masa inilah Pakuan Pajajaran mencapai puncak perkembanganya.
Gemah Ripah Loh Jinawi,Daerah kekuasaanya sepertiga pulau Jawa yg terbentang Luas dari ujungkulon sampai ke Dataran tinggi Dieng jawa tengah.wilayah ini kala itu di sebut tataran Sunda.
Singkat Cerita Setelah Prabu Silihwangi di tinggal nyi Subang Larang ke Rahmat Allah,istri yg paling di cintainya.
Beliau mulai Melupakan islam yg pernah di ikrarkanya,Beliau lebih Memilih Kembali Memeluk Agama yg di Anut leluhurnya(sunda wiwitan).
Sedangkan Raden Walangsungsang yang juga putra mahkota Kerajaan Pajajaran berkeinginan untuk berguru agama Nabi Muhammad saw.
Lalu,ia mengutarakan maksudnya kepada ayahandanya, Prabu Siliwngi. Namun, Prabu Siliwangi melarang bahkan mengusir Walangsungsang dari istana.
Pangeran walangsungsang lahir dikeraton Pajajaran bertepatan dengan Tahun 1423 Masehi. Pada masa mudanya ia memperoleh pendidikan yang berlatar belakang kebangsawanan dan politik,
kurang lebih 17 tahun lamanya ia hidup di Istana Pajajaran.
Pada suatu malam, Walangsungsang melarikan diri meninggalkan istana Pakuan Pajajaran.
Ia menuruti panggilan mimpi untuk
berguru agama nabi kepada
Syekh Nurjati, seorang pertapa asal
Mekah di bukit Amparan Jati cirebon.
Dalam perjalanan mencari Syekh Nurjati,Walangsungsang bertemu dengan seorang pendeta Budha bernama Resi Danuwarsi.
Kemudian Beliau pergi menuju Gunung Dihyang di Padepokan Resi Danuwarsih, masuk wilayah Parahiyangan Bang Wetan. Resi
Danuwarsih adalah seorang Pendeta
Budha yang menjadi penasehat Keraton Galuh, ketika Ibukota Kerajaan masih di Karang Kamulyan Ciamis. Sulit dibayangkan bagaimana keteguhan Sang Pangeran yang muslim, berguru kepada seorang Pendeta yang secara lahiriah
masih beragama Budha.
tp Mungkin saja secara hakiki sang Danuwarsih sudah Islam meskipun tingkah lakunya masih Hindu-Budha. Tetapi yang Jelas kedatangan Putra Sulung Prabu Siliwangi di Padepokan Gunung Dihyang disambut suka cita oleh pendeta Danuwarsih.
Dan untuk menyempurnakan kegembiraan tersebut, sang Guru menikahkan putri satu-satunya yang bernama Endang Geulis.
Darinyalah lahir seorang putri yang bernama Nyai Mas Pakungwati yang kelak kemudian hari menjadi permaisuri Kanjeng Sunan Gunung jati.
Begitupun Rara santang adik
Walangsungsang yang juga berkeinginan untuk mempelajari agama nabi,Rarasantang amat bersedih hati ditinggalkan pergi oleh kakaknya. Ia terus menerus menangis. Jerit hatinya tak tertahankan lagi hingga akhirnya ia
pun pergi meninggalkan istana Pakuan Pajajaran.
Lalu, Prabu Siliwangi mengutus Patih
Arga untuk mencari sang putri. Ia tidak diperkenankan pulang jika tidak berhasil menemukan Rarasantang. Namun, usaha Patih Arga sia-sia belaka karenanya ia tidak berani pulang.
Akhirnya, ia mengambil keputusan mengabdi di negeri Tajimalela.
Sementara itu, perjalanan Rarasantang telah sampai ke Gunung Tangkuban-perahu dan bertemu dengan Nyai Ajar Sekati.
Rarasantang diberi pakaian sakti
oleh Nyai Sekati sehingga ia bisa
berjalan dengan cepat. Nyai Sekati
memberi petunjuk agar Rarasantang
pergi ke gunung Cilawung menemui
seorang pertapa. Di gunung Cilawung,
oleh ajar Cilawung nama Rarasantang
diganti menjadi Nyai Eling dan diramal akan melahirkan seorang anak yang akan menaklukkan seluruh isi bumi dan langit,dikasihi Tuhan, dan menjabat sebagai pimpinan para wali. Selanjutnya, Nyai Eling diberi petunjuk agar meneruskan perjalanan ke Gunung Merapi.
Cerita beralih dengan menceritakan Resi Danuwarsi yang juga dikenal dengan nama Ajar Sasmita,yang tengah mengajar Walangsungsang. Sang Danuwarsi mengganti nama
Walangsungsang menjadi Samadullah
dan menghadiahi sebuah cincin bernama Ampal yang berkesaktian dapat dimuati segala macam benda. Ketika keduanya tengah asyik berbincang-bincang tiba-tiba datanglah Rarasantang yang serta
merta memeluk kakaknya. Di Gunung
Merapi, Walangsungsang di nikahkan
dengan indang geulis putri dari Resi Danuwarsi.
Sesuai dengan petunjuk Resi Danuwarsi, Samadullah beserta istri
dan adiknya meninggalkan Gunung
Merapi menuju bukit Ciangkup. Indang
Geulis dan Rarasantang “dimasukkan” ke dalam cincin Ampal.
Di bukit Ciangkup tempat bertapa seorang pendeta Budha bernama Sanghyang Naga,Samadullah
diberi pusaka berupa sebilah golok
bernama golok Cabang yang dapat
berbicara seperti manusia dan bisa
terbang. Setelah mengganti nama
Samadullah,Sanghyang Naga memberi petunjuk agar Samadullah melanjutkan perjalanan ke Gunung Kumbang menenemui seorang pertapa yang bergelar Nagagini yang sudah teramat tua.
Nagagini adalah seorang pendeta yang mendapat tugas dewata untuk menjaga beberapa jenis pusaka: kopiah waring,badong bathok (hiasan dada dari tempurung), serta umbul-umbul yang harus diserahkan kepada putera Pajajaran.
Atas petunjuk Nagagini,Walangsungsang kemudian berangkat ke Gunung Cangak. Nagagini memberi
nama baru bagi Walangsungsang, yakni Karmadullah.
Ketika tiba di Gunung Cangak, Walangsungsang melihat pohon
kiara yang setiap cabangnya dihinggapi burung bangau. Walangsungsang bermaksud menangkap salah seekor burung bangau itu, tetapi khawatir semuanya akan terbang jauh.
Ia teringat akan pusakanya kopiah waring yang khasiatnya menyebabkan ia tidak akan terlihat oleh siapapun termasuk jin dan setan.
Kopiah Waring segera ia pakai,
lalu ia mengambil sebatang bambu
untuk membuat bubu yang dipasang
disalah satu cabang kiara.
Dalam bubu itu diletakkan seekor ikan. Burung-burung bangau tertarik melihat ikan dalam bubu hingga membuat suara berisik dan menarik perhatian raja bangau (Sanghyang Bango) yang segera mendekati “rakyatnya”.
Raja Bango berusaha mengambil ikan
dalam bubu, namun ia terjebak masuk
ke dalam perangkap dan tak dapat
keluar, dan akhirnya ditangkap oleh
Walangsungsang. Raja Bango
mengajukan permohonan agar tidak
disembelih, dan ia menyatakan takluk
kepada Walangsunsang serta
mengundangnya untuk singgah di
istananya guna diberi pusaka.
Di dalam istana, Raja Bango berubah menjadi seorang pemuda tampan dan
menyerahkan benda pusaka berupa:
periuk besi, piring, serta bareng. Periuk
besi dapat dimintai nasi beserta lauk
pauknya dalam jumlah yang tidak
terbatas, piring dapat mengeluarkan
nasi kebuli, sedangkan bareng dapat
mengeluarkan 100.000 bala tentara.
Sanghyang Bango memberi nama Raden Kuncung kepada Walangsungsang yang kemudian melanjutkan perjalanan ke
Gunung Jati.

Setibanya di gunung Jati, Walangsungsang menghadap Syekh
Nurjati yang juga bernama Syekh Datuk Kafi yang berasal dari Mekah, dan masih keturunan Nabi Muhammad dari Jenal Ngabidin.
Lalu, Walangsungsang berguru kepada Syekh Nurjati dan menjadi seorang muslim dengan mengucapkan syahadat.
Setelah ilmunya dianggap cukup, Syekh Datuk Kafi menyuruh Walangsungsang untuk mendirikan perkampungan di tepi pantai. Walangsungsang memenuhi
perintah gurunya. Ia pun berangkat
menuju Kebon Pesisir, berikut istri dan
adiknya, yang di “masukkan” ke dalam cincin Ampal.
Perkampungan baru yang akan dibukanya kelak dikenal dengan
nama Kebon Pesisir, sedangkan
pesantrennya diberi nama Panjunan.
Dalam pada itu, Syekh Datuk Kafi
memberi gelar kepada Walngsungsang dengan sebutan Ki Cakrabumi.
Selanjutnya,Cakrabumi membuka hutan dengan Golok Cabang. Dengan kesaktian Golok Cabang, hutan lebat telah dibabat dalam waktu singkat. Ketika goloknya bekerja
membabat hutan, pohon-pohonan roboh dengan mudah, lalu golok mengeluarkan api dan membakar kayu-kayu hutan sehingga dalam waktu singkat pekerjaan
sudah selesai; sementara
Walangsungsang tidur mendengkur.
Hutan yang dirambah cukup luas
sehingga pendatang-pendatang baru
tidak perlu bersusah payah membuka
hutan. Dalam waktu singkat, pedukuhan baru itu sudah banyak penduduknya,dan mereka menamakan Cakrabuwana dengan sebutan Kuwu Sangkan.
Kuwu Sangkan sendiri tidak bertani
karena pekerjaannya hanyalah menjala ikan dan membuat terasi. Jemuran terasi yang dibuatnya membentang ke selatan hingga Gunung Cangak di tanah Girang. Suatu ketika, ia pulang ke rumahnya yang terletak di Kanoman,
ternyata gurunya, Syekh Datuk Kahfi
telah berada disana.
Ketika Syekh Datuk Kahfi menemui Walangsungsang di Kebon Pesisir,ia menganjurkan supaya Walangsungsang dan adiknya
menunaikan ibadah haji ke Mekah.
di mekkah kemudian mereka berkenalan dengan patih dari mesir yg sedang mencari permaisuri untuk rajanya,dari perkenalan itu akhirnya raja mesir menikah dengan nyi Rara santang dengan maskawin sorban nabi muhammad saw,Rara santang tinggal di Mesir bersama Suaminya & kian santang Pulang kembali ke pulau Jawa,ketika Rarasantang sedang Hamil tersiarlah kabar Bahwa Raja Mesir Wafat saat berkunjung ke negri Rum di kerajaan saudaranya, Kesedihan Rarasantang yang sedang hamil tua itu tak terbayangkan lagi mendengar kematian suaminya,apalagi masa kehamilannya telah mencapai usia 12 bulan.
Rara santang di karuniahi anak kembar yaitu syarif hidayatulloh & syarif Arifin.
Ketika Mereka berdua dewasa,tahta kerajaan mesir di turunkan ke pada syarif hidayatullah tapi Beliau Menolaknya dan Memberikanya pada Adik kembarnya syarif Arifin,syarif hidayatullah lebih Memilih Berdakwah ke pulau Jawa di tanah Leluhurnya,Setelah sampai Di muara Jati Beliau Bertemu dengan Walangsungsang,uwaknya yg telah berganti Nama pangeran Cakrabuana,kemudian di Nikahkanlah Syarif Hidayatullah dengan putri Uwaknya yg bernama Nyi mas Pakung Wati.
Kemudian Syarif Hidayatullah di Angkat menjadi Waliyulloh dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif
Abdullah dan bergelar pula sebagai
Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah.
Pada tahun 1479 M, kedudukan Pangeran Cakrabuana sebagai Raja di keraton Pakung wati kemudian digantikan Sunan Gunung Jati,Beliau Lalu Mendirikan Kesultanan Cirebon Sebagai Pusat Penyebaraan Agama islam di tataran Sunda,Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulai oleh Syarif Hidayatullah dengan membentuk Dewan Dakwah Sembilan Wali atau Wali Songo sebagai tokoh Ulama penyebar Agama islam di Jawa.
Dan kemudian Syarif Hidayatullah diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka , Kuningan , Kawali (Ciamis),Sunda Kelapa , dan Banten.
Di Kisahkan,setelah kerajaan2 kecil Bawahan pakuan Pajajaran berhasil di taklukan oleh kesultanan Demak & cirebon,dan rakyat pajajaran hampir seluruhnya masuk islam & para pejabat tinggi pajajaran kebanyakan lari kedaerah banten yaitu daerah badui kabupaten rangkas dan ada yang kegarut serta kecirebon.
Rakyat & pembesar kerajaan pajajaran yg tidak mau masuk islam & masih Setia mengikuti ajaran terdahulunya yg Masih Bertahan di kerajaan Padjajaran,keadaan itu Membuat Prabu Siliwangi bersedih hati,ketenangan,kedamaian dan ketentraman batinnya yang slalu
bergejolak tentang iman,karna
prabu siliwangi bersih keras mengikuti
ajaran terdahulunya dan prabu silihwangi tidak mau mengikuti ajaran istrinya meski secara hakiki prabusiliwangi telah masuk islam melalui istri nya yang kedua yaitu nyi subang larang anak ki gedeng tapa. diantara istri dan putra putrinya prabu silihwangi merasa berdosa tidak meneruskan ajaran islam yang
pernah diikrarkannya pada sumpah
perkawinannya dengan nyi subang
larang dengan maskawin berupa tasbih dipondok pesantren syeh Quro
dikarawang .
Prabusiliwangi merasa malu dengan istri dan putra putrinya serta cucunya yang menjadi waliulloh sunan gunung jati, anak dari Rara santang apa lagi pada waktu itu prabu silihwangi terkalahkan pasukan islam dan rakyat pajajaran hampir seluruhnya masuk islam.
Pada Suatu Hari Berkat kesaktiannya, Prabu Siliwangi mengetahui kedatangan cucunya,,Sunan gunung Jati. yg bermaksud ingin Mengajaknya kembali Memeluk islam.
Dalam hatinya, ia merasa malu kalau sampai tunduk kepada cucunya.
Dengan kesaktian pusakanya, sebilah
Ecis, ia berjalan ke tengah alun-alun pajajaran dan membaca mantra aji sikir, lalu pusaka Ecis ditancapkan ke tanah. Seketika itu,negara dan rakyat Pajajaran lenyap dan Sirna ke Alam ghaib,Pusaka Ecis Itupun berubah pula menjadi rumput ligundi hitam.
Syarif Hidayatullah atau sunan gunung jati yang datang kaget karena kerajaan pajajaran beserta Rakyatnya telah hilang berpindah ke Alam Ghaib dan berubah menjadi hutan belantara,
Sebelum pergi beliau berucap"Rakyat pajajaran yg bersembunyi di hutan seperti Harimau"
Seketika itu pula Perkataan Waliullah di kabulkan oleh Allah swt.
Rakyat pajajaran selamanya akan menjadi Harimau sampai Rumput ligundi itu di Cabut.
Kegagalan Sunan gunung Jati dalam Mengislamkan kakeknya,Prabu silihwangi.Membuat Pangeran Walangsungsang Harus Turun tangan Mengislamkan Ayahandanya,Prabu silihwangi.
dengan ilmu Saepi Angin Hanya dalam Sekejap Beliau Melesat ke Pajajaran yg telah Berubah Menjadi Hutan Belantara.
Berkat Kesaktian Ajian Trawangan  walangsungsang Berhasil Menemukan Ayahandanya,Prabu Silihwangi yg Menggunakan Ajian Halimun.Namun usaha kian santang pun sia-sia untuk merubah pendirian Ayahandanya,sang prabu tetap bersikukuh tidak mau memeluk islam.Akhirnya sang prabu beserta pengikutnya merubah wujud mereka menjadi Harimau Sebagai bukti bulatnya tekad sang prabu untuk tetap mengikuti Ajaran Leluhurnya.
prabu siliwangi pun memilih Menghilang atau ngahyang di kawasan Hutan Sancang ,saat terdesak oleh kejaran putra Sulungnya pangeran walangsungsang yg Bersikeras Mengajak Ayahandanya Untuk Masuk islam.
Kerajaan Pajajaran & prabu silihwangi Menghilang bukan berdasarkan perang melawan anak dan cucunya melainkan hanya semata-mata tidak ingin membanjiri darah dengan anak cucunya apa lagi prabu siliwangi adalah ayah yang bijaksana dan Raja yg penuh wibawa pada rakyatnya.
Sekian,apabila ada kesalahan saya mohon maaf,apabila terkandung kebaikan semata-mata karna Allah swt & smga bermanfaat untuk kita semua..
Hikayat ini di tulis Berdasarkan :
-kitab suwasit
-Babad tanah karawang
-Naskah Martasinga  
 
                                                                       
                                                                                           


BAITULMAL DAN PELAKSANAANNYA DI ZAMAN KHULAFA’ AL-RASYIDIN

Baitulmal merupakan institusi kewangan yang berperanan menyelenggarakan segala sumber pendapatan dan perbelanjaan negara serta menjadi tempat penyimpanan barangan yang berharga seperti emas, perak, batu permata, barang perhiasan dan harta-harta amanah (wakaf).

Baitumal telah wujud pada zaman Nabi Muhammad SAW tetapi tidak berapa digunakan oleh baginda kerana sumber kerajaan ketika itu agak terbatas serta baginda tidak suka menyimpan barang-barang amanah kerana tidak mahu menimbulkan masalah. Semua hasil pendapatan akan diagihkan segera oleh Nabi Muhammad SAW kepada yang berhak.

Pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar al-Siddiq, Abu Ubaidah telah dilantik sebagai pemegang kunci baitulmal ketika itu. Namun, pelaksanaannya agak terhad dan tidak menyeluruh.

Peranan institusi ini semakin penting pada zaman Khalifah Umar bin al-Khattab disebabkan harta negara Islam semakin bertambah berikutan kejayaan ekspedisi ketenteraan. Antara sumber pendapatan negara Islam ialah zakat, fay’, jizyah, kharaj, usyur, ghanimah dan sedekah.
PERANAN BAITULMAL :

  • Menyelesaikan masalah kemiskinan serta kedaifan dalam kalangan golongan Islam.
  • Peranan seterusnya ialah adalah untuk membina infrastruktur dan pelaburan dalam aktiviti sosial, perdagangan dan perindustrian
  • Menyediakan keperluan-keperluan asas bukan sahaja untuk tujuan pembangunan negara bahkan ia merupakan tanggungjawab dari sudut kebajikan.
  • Sumber-sumber dari Baitulmal juga digunakan untuk membayar gaji pegawai kerajaan dan golongan tentera yang berkhidmat  secara tetap ataupun sukarela.
  • Dapat mempertingkatkan pendapatan umat Islam melalui pinjaman subsidi dan mengeluarkan biasiswa untuk keperluan pelajar Islam.                                                                                                                                                                                     1.PELAKSANAAN BAITULMAL ZAMAN KHALIFAH ABU BAKAR AS-SIDDIQ

Pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar as-Siddiq, institusi baitulmal telah wujud. Abu Ubaidah telah dilantik sebagai pemegang kunci baitulmal. Pelaksanaan baitulmal pada ketika ini agak terhad dan tidak menyeluruh.

Pelaksanaan baitulmal pada zaman Khalifah Abu Bakar dapat dilihat apb beliau menyerahkan sebidang tanah Nabi Muhammad SAW kpd baitulmal apabila Fatimah menyatakan bahawa Nabi tidak melakukan pindah milik kpdnya sebelum wafat.

Khalifah Abu Bakar telah berjaya melaksanakan ekspedisi ketenteraan terhadap Parsi dan berjaya mendapat kutipan jizyah dan zakat lalu disimpan di baitulmal.

Ketika Khalifah Abu Bakar as-Siddiq hampir meningggal dunia, beliau berpesan kpd Umar al-Khattab supaya mengambil hartanya sebanyak 8 000 dirham utk dikembalikan kpd baitulmal.         

                  2.PELAKSANAAN BAITULMAL ZAMAN KHALIFAH UMAR AL-KHATTAB

Peranan institusi ini menjadi penting pada zaman Khalifah Umar al-Khattab. Beliau telah mewujudkan pengurusan baitulmal secara sistematik dengan menyediakan buku kira-kira negara untuk mengetahui pengaliran wang masuk dan keluar.

Harta  negara Islam semakin bertambah dan pelbagai antaranya zakat, jizyah, sedekah , kharaj, usyur dan ghanimah. Seterusnya sumbangan melalui ekspedisi kemenangan ketenteraan dan dakwah.

Peringkat awal, Khalifah Umar telah melantik Uqail bin Abu Talib, Makhramah bin Naufal dan Jubair bin Mut’am untuk mengendalikan institusi yang sebelum ini dikenali sebagai Diwan atau Khazanah.

Kota Madinah telah dijadikan  pusat pentadbiran Baitulmal yang kemudiannya ditubuhkan di setiap cawangan.

Pegawai-pegawai akan lantik secara khusus dan bertanggungjawab kepada Baitulmal peringkat pusat. 

Khalifah Umar telah memastikan tidak ada kemasukan sesuatu ke dalam baitulmal atau pengeluaran baitulmal sekiranya bertentangan dengan hukum syarak. Mengharamkan sebarang tindakan untuk kepentingan peribadi kerana harta berkenaan adalah amanah Allah.

Khalifah Umar pernah mengambil bahan makanan seperti gandum, mentega dan kurma dari stok simpanan di baitulmal utk diberikan kpd seorang wanita dan anak-anaknya akibat kelaparan.

Khalifah Umar juga melarang golongan tentera memiliki tanah dan rumah sebagai rampasan perang. Tanah-tanah di wilayah yag ditakluki diusahakan oleh pemilik asalnya dan melarang orang Islam memilikinya. Golongan tentera Islam telah diberi elaun atau gaji drp baitulmal.


                  3.PELAKSANAAN BAITULMAL ZAMAN KHALIFAH UTHMAN AFFAN

Khalifah Uthman juga turut menggunakan baitulmal dan memastikan pengurusan harta negara yang sistematik. Pendapatan negara semakin meningkat dan telah digunakan utk kepentingan serta kebajikan rakyat seperti membina jalan, jambatan, projek perumahan dan kelengkapan tentera.

Namum, mula timbul masalah mengenai baitulmal sehingga membawa penentangan terhadapnya. Beliau telah dituduh menyalahgunakan harta baitulmal utk kepentingan diri dan keluarganya. Beliau juga turut dituduh menaikkan kadar cukai yg dikenakan terhadap rakyatnya, tidak mengagihkan harta perang dan dituduh boros dlm perbelanjaan.

Hakikatnya, beliau terpaksa mengerahkan rakyatnya membayar cukai lebih drp biasa bagi menyekat serangan musuh spt menghadapi ancaman laut oleh Byzantine di Mesir. Beliau juga terpaksa menggunakan wang negara utk memperkuatkan angkatan laut spt membeli kapal dan senjata.

Khalifah Uthman juga tidak mengagihkan harta rampasan perang kerana harta itu diperuntukkan oleh beliau bagi keperluan negara. Beliau juga tidak menggunakan harta baitulmal utk diberikan kpd kaum keluarganya iaitu Abdullah bin Saad (gabenor Mesir) sehingga penduduk Mesir bangkit menentangnya.

Semua ini adalah tuduhan orientalis Barat semata-mata di mana Khalifah Uthman tidak akan berbuat demikian kerana beliau adalah seorang yang kaya serta dermawan. Harta rampasan perang yang diberikan kpd Abdullah bin Saad digunakan utk membayar gaji tentera laut.

Khalifah Uthman sanggup menyerahkan perdagangannya yang besar kpd kaum keluarga dan wakil utk menguruskan harta tersebut dan menjadikan rumahnya sebagai baitulmal sebelum kerajaan Islam menubuhkan baitulmal yang sebenar.


                       4.PELAKSANAAN BAITULMAL ZAMAN KHALIFAH ALI ABI TALIB

Khalifah Ali bin Abi Talib juga meneruskan sistem baitulmal dan menguruskan dengan jujur dan amanah serta tidak menggunakan harta baitulmal. Beliau hidup dlm keadaan sederhana, menerima gaji sama seperti Khalifah Abu Bakar dan Umar, memakai pakaian yang singkat dan bertampal-tampal serta tidak pernah menyimpan harta sepanjang kehidupannya.

Ketika berperang dgn Muawiyah, Khalifah Ali tidak menggunakan harta baitulmal bagi mempertahankan diri seperti mana Muawiyah yang menggunakan wang dan hadiah utk mendapat sokongan orang lain. Malah beliau turut menolak permintaan saudaranya iaitu Aqil bin Abi Talib yang meminta harta baitulmal.


SUMBER BAITULMAL PADA ZAMAN KHULAFA’ AL-RASYIDIN:

1. ZAKAT

Zakat dari segi bahasa berasal drp kata dasar zaka iaitu penambahan atau penyucian. Dalam al-Quran, zakat disebut sebanyak 58 kali. Zakat juga mempunyai makna lain sebagai syahadah, zakat, kebaikan, zakat fitrah, suci, halal dan sadaqah.

Zakat merupakan salah satu drp rukun Islam dan wajib mengeluarkan zakat apabila cukup sayartnya.

Amil dilantik utk melaksanakan urusan pemungutan dan pengagihan drp pihak yang layak berzakat mengikut ukuran dan kadar nisabnya. Zakat pula terbahagi kpd 2 iaitu zakat fitrah dan zakat harta benda.

Zakat akan diagihkan kpd 8 golongan asnaf iaitu orang fakir, hamba yg hendak memerdekakan diri, orang miskin, orang yang berhutang, orang yang berjihad, mualaf, musafir dan amil.

Antara peranan dan kepentingan zakat ialah mendatangkan kesyukuran dan penyuburan pahala, menyucikan jiwa drp kekotoran dan dosa, memperoleh keberkatan, dapat mendamaikan dan mewujudkan kedamaian, dapat menyemaikan semangat bertanggungjawab serta tolong-menolong antara satu sama lain, dan dapat mengikis sifat tamak dlm pemilikan harta.

Dengan pengeluaran zakat berdasarkan syarat yang dikenakan, maka ini membuktikan ketaatan kpd Allah

Pada zaman Khalifah Abu Bakar, beliau bertindak tegas dgn memerangi orang yang enggan membayar zakat seperti yang dilakukan oleh penduduk di Yaman, Yamamah dan Oman. Beliau amat tegas menyatakan bahawa solat adalah tiang agama manakala zakat pula sebagai jambatannya.

Kutipan zakat semakin bertambah pada zaman Khalifah Umar al-Khatab ekoran berlakunya peluasan kuasa terutama di Parsi.

Zakat ternakan kuda telah diperkenalkan oleh Khalifah Uthman bin Affan kerana beliau menjelaskan bahawa perkembangan ekonomi yang dinikmati oleh masyarakat Islam sehingga mereka berupaya memiliki binatang seumpama itu.


2. KHARAJ

Kharaj hanya dikenakan pada zaman Khalifah Umar al-Khattab. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, tanah-tanah yang dikuasai dikembalikan kpd tuannya dgn syarat membayar cukai. Pada zaman Khalifah Abu Bakar al-Siddiq pula, tanah-tanah yang dikuasai melalui peperangan akan diagihkan kpd anggota tentera yg terlibat.

Kharaj akan dikenakan kpd tanah yg ditakluki terutama di Iraq. Tanah ini tidak akan dikenakan cukai sekiranya tuannya memeluk Islam.

Kharaj juga dikenakan ke atas tanah lain seperti tanah rampasan perang yg dimiliki oleh tentera Islam dan pengusahanya bukan org Islam, tanah yang diusahakan oleh gol dhimmi dgn kebenaran pemerintah Islam, tanah terbiar yg dikerjakan oleh org Islam dan tempat tinggal gol dhimmi yg diubah menjadi kawasan pertanian.

Pemegang Amanah @ gol Ahl al-Ayyam telah dilantik oleh Khalifah Umar mengawasi dan mentadbir tanah tidak bertuan yg diusahakan oleh petani tempatan.

Gol Ahl al-Ayyam bert/jawab utk memunggut cukai tanah ini dan 1/5 drp hasilnya dihantar kpd kerajaan pusat. Manakala bakinya diagihkan kpd mereka yg terlibat dlm penaklukan Iraq.

Kharaj dpt dibhg kpd 2 jenis iaitu kharaj wazifah/masahah dan kharaj muqasamah.

  • Kharaj wazifah/masahah dikenakan bergantung kpd keluasan tanah atau jumlah pokok yang ditanam. Contoh di Iraq, setiap jarib anggur dikenakan kharaj sebyk 10 dirham. Cukai ini dikenakan sekali dlm setahun tanpa mengira berapa byk hasil yang diperolehi.
  • Kharaj muqasamah pula cukai yg dikenakan berdasarkan jumlah hasil yg diperolehi drp tanaman. Cukai ini dikenakan kpd setiap hasil yg diperolehi berdasarkan byk perkara utk mengelakkan penganiayaan kpd petani.

Kadar kharaj tidak membebankan dan bergantung kpd kemampuan seseorang. Kadar maksimum ialah ½ drp keseluruhan hasil dan dibayar dlm bentuk mata wang atau hasil yang diusahakan.

Kadar kharaj juga ditentukan berdasarkan kualiti tanah, disirami air hujan atau penyiraman, jenis dan kualiti benih tanaman dan lokasi kws tanaman dgn bandar.

Kharaj tidak akan dikenakan jika tanaman penduduk musnah akibat bencana alam. Sekiranya pemilik tanah tidak berkemampuan utk mengerjakan tanah tersebut, kerajaan akan menyerahkan kpd org lain.

Kharaj akan dikenakan kepada:

  • Pemilik tanah yg berkemampuan mengerjakan tanah tersebut tetapi tidak mengerjakannya.
  • Sekiranya tanah tersebut dipajak atau disewa, kharaj akan dikenakan ke atas pemilik tanah dan bukannya ke atas pemajak.
  • Kharaj juga dikenakan ke atas tanah kediaman yang dijadikan kawasan pertanian.

Pengutipan kharaj dijalankan secara adil. Sekiranya kharaj tidak dibayar disebabkan masalah kewangan, pembayarannya boleh ditangguhkan sehingga mampu. Jika pemiliknya enggan membayar kharaj sedangkan mampu, kerajaan boleh mengambil tindakan undang-undang atau tanahnya boleh dijual.

Pada zaman Khalifah Abu Bakar, sistem kharaj masih belum diperkenalkan kerana tanah-tanah yang ditakluki pada zamannya masih dianggap sebagai harta rampasan perang. Oleh itu, tanah-tanah ini telah diagihkan kpd tentera yg terlibat dlm ekspedisi penaklukan tersebut.

Semasa Khalifah Umar al-Khattab, tanah-tanah yang ditakluki di Iraq telah dijadikan tanah kharaj. Bagi tanah yang tidak bertuan telah dijadikan hak milik bersama dan diusahakan oleh petani tempatan di bawah pengawasan Pemegang Amanah. Beliau telah menyerahkan tugas mengutip kharaj kpd golongan Ahl al-Ayyam.

Di akhir pemerintahan Khalifah Uthman, gol ini tdk lagi diberi kuasa utk mengurangkan kadar cukai. Kuasa ini telah diberikan kpd pentadbiran gabenor.

Hasil kharaj yang dikutip akan diserahkan kpd baitulmal utk dimanfaatkan spt memperbaiki infrastruktur, prasarana, memajukan kegiatan pertanian, mewujudkan keamanan, memperbaiki sistem perhubungan, mewujudkan sistem pengairan dan memperbaiki saliran yg sedia ada.


3. JIZYAH

Jizyah pula merupakan cukai politik yg dikenakan terhadap orang-orang kafir dhimmi sebagai balasan terhadap perlindungan atau jaminan keselamatan jiwa dan harta benda mereka.

Jizyah hanya dikenakan kpd mereka yang sihat fizikal dan mental, akil baligh, berkemampuan, merdeka serta bukan ahli agama spt paderi atau pendeta.

Jizyah terbahagi kpd 2 kategori iaitu jizyah dgn kadar ditetapkan berdasarkan persetujuan bersama dan jizyah dgn kadar ditetapkan oleh kerajaan Islam.

Jizyah boleh dibayar dalambentuk tunai atau barangan atau kedua-duanya sekali. Mereka yang enggan membayar jizyah dianggap tidak setia kpd negara Islam dan boleh dikenakan hukuman berat.

Jizyah akan dikenakan pada setiap awal tahun, paling minima kadarnya ialah 1 dinar. Bagi sesetengah mazhab seperti Mazhab Hanafi dan Hambali, kadarnya ialah antara 12 hingga 48 dirham bergantung kpd status seseorang individu.

Pembayaran jizyah tidak akan dikenakan sekiranya orang kafir dhimmi telah memeluk Islam atau pemerintah Islam gagal memberi jaminan keselamatan nyawa dan harta benda.

Amalan jizyah telah diteruskan pada zaman Khalifah Abu Bakar terutama ketika ekspedisi sebelum menyerang Byzantine dan Parsi. Mereka ditawarkan 3 pilihan sama ada menerima Islam, berperang ataupun membayar jizyah. Kadar jizyah yang dipersetujuai ialah sebanyak 19 ribu dirham setahun dan dibayar kpd kerajaan Islam Madinah.

Pada zaman Khalifah Umar al-Khattab, sumber pendapatan dari jizyah semakin meningkat kesan drp berlakunya peluasan kuasa ke atas Iraq, Syam, Mesir, penduduk Qibti, penduduk Adzerbaijan dan termasuklah pemimpin Baitulmuqaddis bersetuju utk membayar jizyah.

Jizyah akan dikutip oleh gabenor-gabenor wilayah yang dilantik dan dipert/jawabkan ke atas wilayah masing-masing.

Pada zaman Khalifah Uthman pula, jizyah dikenakan ke atas wilayah-wilayah yg ditakluki spt Tripoli, Nubah dan Qairawan setelah termenteraianya perjanjian damai.

Pada zaman Khalifah Ali, jizyah juga diamalkan seperti sepucuk surat yg dihantar kpd al-Asytar al-Nakhaii supaya menerima perjanjian damai yg dihulurkan oleh orang kafir dhimmi utk membayar jizyah.


4. GHANIMAH DAN AL-FAY’

Harta ini diperuntukkan kpd perbelanjaan kerajaan pusat Madinah dan selebihnya dibahagikan kpd tentera yg terlibat dlm peperangan.

Setelah dewan tentera ditubuhkan pada tahun 20 H, tentera Islam diberi gaji mengikut kadar yg telah ditetapkan.


5. USYR

Usyr merupakan cukai perniagaan yg dikenakan ke atas perniaga Islam atau bukan Islam, namum kadarnya berbeza.

Golongan kafir harbi akan dikenakan cukai sebanyak 10%, manakala golongan kafir zimmi pula 5% dan orang Islam hanya 2.5%. Cukai ini hanya akan dikenakan apabila cukup nisabnya sebanyak 200 dirham.


KESIMPULAN

Pemerintah Khulafa’ al-Rasyidin menganggap bahawa baitulmal adalah amanat Allah SWT. Mereka kan memastikan tidak akan berlaku kemasukan sesuatu ke dalamnya atau pengeluaran drinya yang bertentangan dgn syariat Islam. Pemerintah Khulafa’ al-Rasyidin mengharamkan sebarang tindakan utk menggunakan baitulmal bagi tujuan peribadi.

Penubuhan Baitulmal sesungguhnya dapat memastikan urusan pemungutan dan perolehan pendapatan negara Islam menjadi lebih tersusun dan kemas. Kesannya ianya bukan sahaja dapat menghulurkan bantuan secepat mungkin kepada individu yang memerlukan bahkan  ia dapat membangunkan dan memberi manafaat kepada sesuatu wilayah dan penduduk berdasarkan syariat yang ditetapkan.

Hal inilah yang memberi sumbangan besar dalam pembentukan iklim politik yang stabil serta ekonomi yang teguh pada zaman Khalifah Umar al-Khattab.
sumber: cikgustpm.blogspot.com